Kepekaan seorang penulis terhadap kondisi sosial yang ia diami. Dapat mempengaruhi proses imajinernya dalam menghasilkan sebuah karya. Setiap tokoh, setting dan alur cerita, bisa dikatakan sebuah penggambaran kecil konflik pada kelas yang ia diami. Melalui karya sastra itu, seorang aktivis sastra seharusnya mampu menyampaikan nilai-nilai moral yang ada. Bukan malah mengikuti trend pasar yang ada saat ini.
Beberapa teman mengeluh kepada saya. Karena mereka terkena “writer’s block syndrome”, yang memaksa mereka untuk berhenti berkarya , dan bahkan menyelesaikan thesisnya. Entah mengapa mereka selalu menggerutu bahwa belum ada inspirasi yang pas untuk ditulis. Bagi saya hal itu tidak karena inspirasi yang belum datang. Bukan juga karana ide itu belum jatuh dari langit. Seperti musim hujan yang selalu saja melanda akhir-akhir ini. Semua inspirasi ataupun ide kreatif kita sebenarnya ada pada kepekaan kita terhadap kondisi sosial yang ada. Karena segala sumber sastra terdapat pada kondisi masyrakat yang ada, entah politik, ekonomi, agama dan isu-isu yang lain.
Dalam hal ini, pentingnya kepekaan aktivis sastra terhadap kondisi lingkungan yang ada. Tidak dimaksudkan untuk mendorong mereka untuk menjadi penulis musiman, yang selalu terbawa oleh arus minat pasar. Kepekaan terhadap kondisi sosial yang ada di sekitar kita. Seharusnya tidak membuat kita lata terhadapnya. Karana mutu sebuah karya sastra itu terlihat pada fungsi estetisnya yang tidak pernah habis, walu digerus oleh zaman. Setiap karya sastra yang bisa bertahan lama pada hakikatnya adalah suatu moral, baik dalam hubungannya dengan kebudayaan atupun dengan setiap individu dalam masyarakat. Sangat disayangkan jika sekarang banyak sekali muncul karya sastra pop atau “lata” yang hanya dibuat untuk memenuhi pangsa pasar yang ada, tanpa memandang unsur moral dan fungsi estetis sebuah karya.
Gejala lata itu terlihat ketika novel Ayat Ayat Cinta sedang booming. Di gramedia terlihat ada beberapa penulis yang menggubah judul tersebut, diantaranya; Dzikir Cinta, Nada-Nada Cinta, dan Tasbih Cinta. Saya belum mengetahui motif dibalik pembuatan judul tersebut. Entah karena mengejar kepopuleran secara instan atau hanya mengikuti pangsa pasar yang berkembang saat itu. padahal belum pasti juga judul-judul tersebut mampu mendongkrak penjualan, jika tidak dibarengi dengan isi novel yang estetis serta normatif.
Di lain pihak, dunia sastra negeri ini mungkin telah didiami oleh para aktivis cinta, yang menyuguhkan karya sastra hingga membuat kita bermental cengeng. Romantisme masa lalu yang menggambarkan kisah cinta si kaya dan si miskin, si buruk rupa dan si rupawan, atau kisah ramasinta modern menurut saya. Tidaklah pantas jika dihadapkan pada kondisi sosial masyarakat yang semakin terhimpit oleh krisis IPTEK, IMTAQ dan Moneter yang berkepanjangan, sangat miris bukan?
Memang, sangatlah naïf jika kita tidak mengharapkan sebuah penghargaan akan karya yang telah kita buat. Namun, bagi saya sebuah penghargaan itu akan datang dengan sendirinya jika kita juga memberikan penghargaan yang setimpal terhadap masyarakat. Melalui karya sastra yang bermoral serta memenuhi fungsi estetis yang ada. Melalui karya sastra itu juga, seorang aktivis sastra, mampu menciptakan karya-karya yang memberi semangat kepada setiap individu untuk berbenah dan merubah bangsa ini. menjadi bangsa yang tegar, bukan cengeng. Menjadi bangsa yang rendah hati, bukan gila penghargaan pada sebuah karya.
(Artikel ini sengaja kubuat untu sahabatku, Nurmansyah, yang selalu menyemangatiku untuk berkarya melalui karyanya yang brilian… tidak ada sedikitpun niat untuk menyindir atau mengejek sastra pop. Asalkan karya pop tersebut benar-benar kaya dan tidak “lata”. Mungkin dengan mengawali pada diri sendiri. Kita bisa merubah keadaan di sekitar kita. Salam budaya untuk teman-teman…^_^…)
Penulis, Surabaya, 01 Februari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar