“Ia supel, care, bawaannya kalem ketika ngomong sama cewek.”
“Tapi, dia seperti memberi harapan ke aku Ve.”
“Mungkin kamu yang menyalah artikan perhatian dia ke kamu, wajar kan sebagai teman?”
Ia terdiam, berdiri di depan jendela. Matanya mulai sembab, menerawang
dengan bebas menuju kegelapan malam yang sepi, bersamaan dengan rintik
hujan yang mulai turun. Suara gemericik air di atas genting berirama
pilu.
“Hey… sudahlah jangan kau bersedih. Masih banyak hal lain yang perlu kau fikirkan.”
Veve berlalu menuju kamarnya. Berlahan ia manaiki tangga kayu dengan
kedua lampu di sisi kiri dan kanan, yang sengaja di desain
minimalis-kontemporer. Lukisan yang terpasang rapi di dinding, sesekali
menghentikan langkahnya. Ingatannya kembali tumpah ketika melihat
sebuah lukisan realis yang sudah tua, dimana terdapat sosok lelaki
dengan diapit kedua putri. Lukisan itu hadiah dari seorang sahabat di
Jogja yang kini sedang melakukan studi S2 di Institut Kesenian Jakarta
(IKJ).
Seorang sahabat yang selalu menemaninya untuk kongkow di alun-alun
jogja, dan sesekali mencari turis yang sedang lewat untuk diajak
berbincang tentang perkembangan seni dan sastra di mancanegara. Mereka
berdua memang berada di Fakultas yang sama, bedanya Veve mengambil
studi Sastra Indonesia, dan lelaki tersebut mengambil studi Seni Rupa.
Mereka berdua saling bertemu pada saat kampus mengadakan masa
pengenalan kehidupan kampus (OSPEK) terhadap mahasiswa baru. Kebtulan
Veve berada satu kelompok dengan lelaki tersebut. Berasama dalam satu
kelompok membuat Veve mengenal dengan baik bagaimana sikap dan
wataknya. Sikapnya yang sangat care terhadap teman-teman,
sangat membuat dia menaruh hiba kepadanya. Lelaki yang sangat membuat
Ia tergiala-gila, walaupun tak sempat dan tak ada keberanian untuk
menyatakan segenap perasaan kepadanya.”
“Ah, sudahlah aku tak pantas lagi mengharapmu Dick…” Mengeluh.
Veve kembali melanjutkan langkah kakinya. Sesampainya di kamar, ia
langsung melemparkan tubuhnya ke kasur, berguling-guling. Tak lama, ia
genggam sebuah novel Lady Chatterley’s Lover karya D. H.
Lawrence. Ia baca dengan berlahan, karena ia tak begitu mamahami bahasa
Inggris dengan fasih. Sesekali ia membuka kamus Oxfford kecil untuk mencari makna beberapa kata sukar yang Ia temui.
***
Matanya semakin sembab. Air mata tak henti mengucur dari kedua matanya.
Di luar masih gerimis bercampur dengan petir yang menggelegar.
Dedaunan melambai gontai padanya. Tak satupun bintang yang terlihat
malam itu, bulan pun harus mundur beberapa waktu pada rintik hujan yang
pilu. Raut wajah lelaki itu bersliweran kesana kemari dalam pikirnya.
Sikap lembut dan perhatian yang ia tunjukkan membuat hati menghiba pada
hujan. Bertanya akan rasa yang ia miliki pada setiap jentik hujan
malam itu. Lelaki yang bersahaja, cerdas dan lembut sekaligus tegas
dalam satu waktu, telah membuatnya tergila-gila.
Lelaki itu tak pernah ia jumpai. Ia hanya berkenalan melalui akun facebook. Tidak jarang, lelaki tersebut mengirim pesan singkat melalui sms.
Terkadang pula ia menghubungi Jasmine lewat telvon di akhir pekan,
hanya sekedar menanyakan kabar. Jasmine sering memandangi foto Candra
yang ia unduh melalui FB untuk melepas rindu. Setelah dirasa
cukup memandang, Jasmine menulis beberapa kata dalam buku hariannya.
Terkadang ia hanya mencorat coret dengan nama lelaki itu sehalaman
penuh.
Setelah puas mencorat-coret air matanya mengucur deras. Tak habis
kesedihan yang ia rasakan. Mencintai seseorang yang tak pernah ia
temui. Ia hanya mampu mengenalinya lewat sms yang dikirim
kepadanya, melalui suaranya yang merdu dan meluluhkan hati. Selalu
berharap bahwa sikap care dan lembutnya mampu dirasakan dengan nyata
jika suatu saat berjumpa.
Terkadang angan-angan itu sirna tergantikan oleh ketakutan akan sikap orang tuanya yang over possessive
terhadapnya. Seperti Hakim, mereka selalu memberikan larangan-larangan
yang pada Jasmine. Ini dan itu semuanya tentang kriteria lelaki yang
harus ia nikahi. Juga hal-hal lain, yang melarangnya untuk berteman
dengan seorang lelaki.
“Pokoke, kowe kudu rabi karo wong sing bagus, pinter lan mapan. Lan
ojok dilalekake wong iku kudu wong Muhammadiyah. Siji maneh. Iki sing
paling penting Nduk, ojok pisan-pisan wae kowe hubungan karo wong
lanang. Maksiat iku, Elingo!”
Kata-kata itulah yang selalu teringat ketika Candra mengirim pesan
singkat kepadanya. Ataupun ketika ia mendengar suara merdunya dari hand
phone yang ia miliki. Suatu hari Jasmine pernah bertanya pada Bapaknya
mengapa ia harus menikah dengan syarat yang begitu banyak dan ribet.
Jawabnya hanya “karena harusnya seperti itu, agar kehormatan keluarga
dan sesepuh tetap terjaga.” Demi kebahagiaan keluarga, orangtuanya
seringkali memberikan sayrat-syarat konyol. Mengorbankan kebebasan
anak-anaknya untuk memilih calon pendamping hidup sendiri. Dengan
mengatasnamakan golongan, orang tuanya selalu memaksakan kehendak pada
kedua anaknya.
Pembatasan untuk bergaul terhadap teman-teman lelakinya seringkali
membuat hati si dara cantik tersebut dongkol. Seperti buah simalakama,
sikap kedua orang tuanya itu membuat Jasmine seringkali keluar rumah
tanpa pamit. Dihabiskannya waktu di malam hari dengan kongkow bersama
teman-teman lelaki di Desa Sawunggaling. Terkadang dengan tipu muslihat
ia berangkat dari rumah dengan membawa tas punggung dan menaiki ontel
lipat, dengan alasan menyelesaikan tugas kuliah. Agar tak diketahui
warga desa, Jasmine selalu mengajak teman-temannya untuk berkumpul di
sebuah cafe pada sebuah Mall ternama, berharap tidak ada seorang pun
mengenalnya sebagai anak dari seorang tokoh terpandang.
Jika diruntut ke belakang, keluarga Bapak Mukhlis memang berasal dari
Trah Raden Sawunggaling, sesepuh pendiri desa Sawunggaling. Seorang
putra keraton Lakarsantri yang sedari kecilnya mengenyam ilmu
ketatanegaraan dan ilmu agama dari Paduka Oentoeng Sawung Jabung,
pamangku kerajaan Lakarsantri. Setelah dewasa Raden Sawunggaling
mendapatkan sebagian petak tanah kekuasaan dari Ayahnya. Dan dengan
segera bersama dengan pangabdi kraton Lakarsantri, ia melakukan babat alas untuk didirikannya sebuah desa.
Beranjak dari trah keluarga yang terhormat, Pak Mukhlis mendidik
anak-anaknya dengan keras. Ia berharap kedua putrinya tidak tertular
oleh kenakalan remaja Desa Sawunggaling. Juga, bagi Pak Mukhlis, hanya
dengan cara tersebut ia mampu menjaga kedua putrinya. Agar tak mendapat
malu dikemudian hari.
***
Masih di depan jendela, Jasmine termangu sendu. Bagai merpati yang
kedinginan saat hujan. Paras cantiknya tampak molek, sesekali ia
menyeka air mata yang mengucur. Hujan tak lagi rintik, semakin lebat
bersama angin kesedihan. Petir menyambar penat dan pekat, sibak nestapa
dan sepinya malam. Guntur menderu, bergemuru bah letusan semeru.
Mendung menggelantung pilu, bersama daun ia bagi rasa. Rindu menyiksa
raga, menari diantara bulir-bulir duka. Ia pun dengan segera mengirim
pesan singkat pada Candra, namun tiada balas.
Tak terasa sudah setengah jam ia menghampar rindu pada malam, di
jendela, saat hujan memberi harap pada daun cinta yang semakin tumbuh.
Berdering nyaring hand phone miliknya. Pecah sunyi malam yang
membahana. Dengan segera ia memungutnya dari saku. Sebuah telvon dari
Candra.
Senyum mengembang dari bibirnya. Lesung pipinya maniskan hujan yang
kembali rintik. Suara merdu lelaki idaman buat ia tuli akan petir yang
menggelegar. Saling bertanya kabar dan berbasa basi akan banyak hal.
Jasmine mengulur waktu agar rindu terobati. Ditanyakannya banyak hal,
tentang studi Candra di Jogja dan juga koleksi lukisan yang terbaru.
“Jasmine, aku ada lukisan untukmu. Kau mau?”
“Eh… lu…kis…an…? Ehm… Kok?”
“Ia, sengaja buat kamu emang, tapi… kamu yang harus ambil sendiri ke
jogja.” Bersamaan dengan suara tawa yang terdengar dari handphone.
“Gimana, mau?”
“ke jogaja? Eh, serius ini?” Jasmine menggaruk-garuk kepala. Sembari
menggigit bibirnya, matanya terus memandangi air yang mangalir dari atas
genting, dan kerling matanya jatuh pada permukaan tanah yang basah.
Tak lama Ia pun berjalan kesana kemari. Sesekali merebahkan tubuh di
kasur, bangkit lagi, dan menuju jendela lagi.
“Jogja, aku pengen kesana si. Pengen ngrasain suasana Jawa yang
bercampur dengan suasana modern di sekitar alun-alun dan Malioboro.
Tapi… aku tidur di tempat siapa? Aku nggak punya teman akrab yang bisa
dijadiin tempat nginap. Kalaupun ada itupun di rumah Bude di Kauman…
Hmmm, aku nggak mau, nggak bebas disana. Gak bisa jalan-jalan kemanapun
aku suka. Maklum, Muhammadiyah tulen.”
“Bude kamu old fashion ya.”
“Yupz… orang kuno banget Candra.”
“Keluargaku juga seperti itu, tapi mereka lebih kuno lagi… maklum orang
NU tulen. Dan tak jarang setiap aku pulang kampung ke Gresik, mereka
selalu berceramah tentang fashion dan pakaian yang kukenakan, kata
mereka aku berpakaian kurang sopan. Juga memrotes gelang dan kalung
yang aku pakai. Dan sebelum kembali ke jogja mereka selalu
mengingatkanku untuk wirid yang sampai ratusan kali. Mengingatkan puasa
muteh dan tirakat yang lain. hmmm ribet juga si…”
“Tapi itu baru budeku Candra. lebih parah lagi orang tuaku yang selalu
melarang ini dan itu. menyuruhku untuk bergaul ma anak teman-teman
mereka. Dan kadang-kadang dijodohin gitu, emang gue siapa? Enak
aja dijodoh-jodohin. Dan kalaupun mereka membolehkan aku untuk memilih
laki mana yang akan kunikahi, mereka ngasi syarat harus orang
Muhammadiyah, bukan yang lain. Hayoooo, kuno siapa coba?”
“dua-duanya kuno si, malah primitif banget.” Dia melanjutkan, “Setiap manusia kan punya hak menentukan pilihan.”
Jasmine terdiam sejenak, lalu mengiyakan pendapat Candra.
“Tapi Can, setiap manusia bukanya memiliki hak untuk menunaikan kewajiban ya?”
Hening, hujan pun berangsur reda. Perlahan purnama pancarkan sinarnya.
Tetes airpun ragu tuk mengalir. Bintang bermekaran, menghampar pada
setiap ufuk. Tetes air menari dalam rima yang indah, bersahut-sahutan
mengisi heningnya malam.
“Ia juga si, tapi nggak usah dipaksain. Setiap orang kan memiliki cara sendiri, menentukan arahnya sendiri.”
“Nah, itu yang aku perjuangkan. Sering juga sih aku berdebat, hingga
berjam-jam. Kadang-kadang hanya berakhir pada aku yang kena tampar, dan
masuk kamar. Padahal hanya masalah pakaian yang aku pakai. Namun aku
terkadang putus asa, andai Tuhan mau mendengar sesalku. Andai Tuhan
memberikan umur panjang pada para Nabi dan RasulNya mungkin kita tak
akan terpecah-pecah seperti ini. aku ingin bertemu Rasul dan menanyakan
bagaimana Islam yang sebenarnya.”
“Ngigau kamu, mana bisa kita bertemu Rasul. Rasul juga manusia biasa, umurnya juga standardnya manusia seperti kita.”
“Bisa, aku pasti bisa menmuinya.” Suaranya gugurkan dedaunan pada taman. Pekakkan telinga bulan yang terdiam saat malam.
“aku ngantuk, udahan dulu ya Candra telvonnya. Aku mau tidur, nggak papa kan? Maaf ya, sebenaranya… sebenarnya…”
“sebenarnya apa?”
“Aku…”
“Aku apa Jasmine?”
“Aku sangat menyayangimu. Walau aku hanya ngerti kamu lewat FB, itu
sudah cukup bagiku untuk menyayangimu. Walau kita berbeda… Aku memang
anak dari seorang Muhammadiyah, tetapi orang tuaku tidak ada dalam
diriku. Aku orang lain. Aku memanglah buah yang jatuh jauh dari
pohonnya. Agamaku islam, bukan Muhammadiyah. Aku manusia yang
diciptakan untuk menyembah Tuhan, bukan memuja sebuah bendera ataupun
golongan apapun. Islam mengajariku untuk menghargai dan mencintai orang
lain, lalu menyucikannya dalam ikatan pernikahan. Namun, aku tak
mungkin menikahimu tanpa restu orang tuaku. Setidaknya kamu tahu apa
yang aku maksudkan. Afwan Ya Habibi… ana asyif jiddan“
Suara hening seketika. Tak sepatah kata pun terdengar dari handphone
Jasmine, dan suara Candra tak lagi terdengar. Telvon telah terputus,
dan seperti biasa, pembicaraan mereka berakhir ketika paket Ceesan telah habis.
***
kursi goyang tak henti bergerak. Asap menyembul dari mulutnya. Kumis
tebal, jambang yang panjang. Kerutan dahi nampak begitu jelas.
Rambutnya beruban nampak, tertutupi dengan kopyah putih yang kusam.
Beberapa gigi sudah tanggal, tergantikan oleh besi dan logam. Setumpuk
koran dari berbagai media berada di depannya. Diatas meja tua dari kayu
jati. Ia jumput satu, Jakarta Post, satu-satunya koran yang menggunakan bahasa inggris. Di beranda ia mengulum setiap kata dalam fikirnya.
Sembari meminum kopi ia membaca koran itu dengan perlahan. Lembar demi
lembar dan huruf demi huruf. Mata tua itu tak luput dari kacamata
berwarna coklat dengan frame bundar, pemberian istrinya.
“Bapak, kok belum tidur? Sudah mala mini, tak bagus untuk kesehatan bapak.” Tiba-tiba Veve datang.
“Kamu to nduk, ia ini bapak lagi pengen baca baca dulu. Eman, koran
yang bahasa inggris kan jarang kalian baca. Padahal bapak berlangganan
koran ini biar kalian mau baca dan belajar bahasa inggris. Lagian,
bapak juga pengen mengingat-ingat beberapa vocabulary, biar ndak lupa termakan usia. Oh iya, adimu dimana? Kok ndak keliatan.” Bertanya dengan logat medok.
“Oh, dia di kamarnya.”
“laopo ning kamar ket mau? Paling yo telponan karo Candra. Anak kok ndak bisa diberitahu mana yang bener.”
“Sabar pak, mungkin sedang baca buku atau nulis. Sebentar Veve liatin
di kamarnya.” Ia pun berlalu menuju kamar. Dan pak mukhlis melanjutkan
membaca koran Jakarta Post yang berada kembali. Menjumputnya dengan tangan yang bergerak lamban karena usia senja.
“Bapak memang gampang naik darah nduk. Yang sabar ya.” Bu Mukhlis menegur Veve.
“Ia bunda, Veve tahu.” Berlalu ke kamar Jasmine.
Bagi Veve, Bapaknya adalah seorang sosok yang pantas dijadikan suri
tauladan. Setiap gerak gerik dan tingkah lakunya selalu ia hayati.
Kesederhanaan, rasa ingin tahu, dan sikap bersahajanya, selalu membuat
setiap orang sungkan kepadanya. Tak lupa ia menularkan dalam diri
anak-anaknya semua sikap tersebut. Namun, suatu waktu ia mendapati adik
yang sangat ia sayangi terkena tampar karena Jasmine tak mau
dijodohkan. Dan menolak untuk menikah dengan syarat-syrat yang telah
diberikan oleh Bapaknya. Rasa benci pada diri Veve pun mulai tumbuh.
Bapak macam apa itu.
Pintu kamar jasmine terbuka. Veve melihat Jasmine tergantung di
jendela. Dengan jilbab putih yang masih ia kenakan. Wajah Jasmine pucat
dengan lidah menjulur akibat kekurangan Oksigen. Tampak busa yang
keluar dari mulutnya, beberapa mengotori daster putih yang dikirim
lewat TIKI, dari Candra. Veve hanya berteriak histeris, menangis
sekencang-kencangnya. Setiap sendi terbelenggu dalam tangis. Tak
disangka ia melihat adik kesayangannya mati tergantung di jendela.
Dengan jilbab hitam yang melilit pada lehernya.
“Bapaaaaaaaaaak…. Jasmine bapak… bapak…. Jasmine bapak….. bapak.. jasmine bapak…”
***
Fariq Shiddiq Tasaufy, Surabaya, 08 Mei 2012
Pada pikuk senja kota. Kuseduh pada cawan peraduan, tawa asa tangis
tragis kehidupan.”Bapak, aku ingin panjat pohon kamboja.”,”Tunggu
Bapak ingin tersenyum saat senja.Dan biarkan kuaduk sejenak nestapa.Kau
masih menanti? Sini, duduklah barang sebentar.”,”Masih, Biarkan aku
berdiri. Aku ingin bunga kamboja”, “Duduklah, Bapak belum menengok
senja.Hujanpun baru menyapa, namun kamboja belum berbunga.”,”aku ingin
pulang.”,”Sebentar, pak kusir masih tunggu kopi dari Emakmu, empat.”