Rabu, 09 Mei 2012

Saat Hujan, Kuncupnya Tak Lagi Mekar

“Ia supel, care, bawaannya kalem ketika ngomong sama cewek.”
“Tapi, dia seperti memberi harapan ke aku Ve.”
“Mungkin kamu yang menyalah artikan perhatian dia ke kamu, wajar kan sebagai teman?”
Ia terdiam, berdiri di depan jendela. Matanya mulai sembab, menerawang dengan bebas menuju kegelapan malam yang sepi, bersamaan dengan rintik hujan yang mulai turun. Suara gemericik air di atas genting berirama pilu.
“Hey… sudahlah jangan kau bersedih. Masih banyak hal lain yang perlu kau fikirkan.”
Veve berlalu menuju kamarnya. Berlahan ia manaiki tangga kayu dengan kedua lampu di sisi kiri dan kanan, yang sengaja di desain minimalis-kontemporer. Lukisan yang terpasang rapi di dinding, sesekali menghentikan langkahnya. Ingatannya kembali tumpah ketika melihat sebuah lukisan realis yang sudah tua, dimana terdapat sosok lelaki dengan diapit kedua putri. Lukisan itu hadiah dari seorang sahabat di Jogja yang kini sedang melakukan studi S2 di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Seorang sahabat yang selalu menemaninya untuk kongkow di alun-alun jogja, dan sesekali mencari turis yang sedang lewat untuk diajak berbincang tentang perkembangan seni dan sastra di mancanegara. Mereka berdua memang berada di Fakultas yang sama, bedanya Veve mengambil studi Sastra Indonesia, dan lelaki tersebut mengambil studi Seni Rupa.
Mereka berdua saling bertemu pada saat kampus mengadakan masa pengenalan kehidupan kampus (OSPEK) terhadap mahasiswa baru. Kebtulan Veve berada satu kelompok dengan lelaki tersebut. Berasama dalam satu kelompok membuat Veve mengenal dengan baik bagaimana sikap dan wataknya. Sikapnya yang sangat care terhadap teman-teman, sangat membuat dia menaruh hiba kepadanya. Lelaki yang sangat membuat Ia tergiala-gila, walaupun tak sempat dan tak ada keberanian untuk menyatakan segenap perasaan kepadanya.”
“Ah, sudahlah aku tak pantas lagi mengharapmu Dick…” Mengeluh.
Veve kembali melanjutkan langkah kakinya. Sesampainya di kamar, ia langsung melemparkan tubuhnya ke kasur, berguling-guling. Tak lama, ia genggam sebuah novel Lady Chatterley’s Lover karya D. H. Lawrence. Ia baca dengan berlahan, karena ia tak begitu mamahami bahasa Inggris dengan fasih. Sesekali ia membuka kamus Oxfford kecil untuk mencari makna beberapa kata sukar yang Ia temui.
***
Matanya semakin sembab. Air mata tak henti mengucur dari kedua matanya. Di luar masih gerimis bercampur dengan petir yang menggelegar. Dedaunan melambai gontai padanya. Tak satupun bintang yang terlihat malam itu, bulan pun harus mundur beberapa waktu pada rintik hujan yang pilu. Raut wajah lelaki itu bersliweran kesana kemari dalam pikirnya. Sikap lembut dan perhatian yang ia tunjukkan membuat hati menghiba pada hujan. Bertanya akan rasa yang ia miliki pada setiap jentik hujan malam itu. Lelaki yang bersahaja, cerdas dan lembut sekaligus tegas dalam satu waktu, telah membuatnya tergila-gila.
Lelaki itu tak pernah ia jumpai. Ia hanya berkenalan melalui akun facebook. Tidak jarang, lelaki tersebut mengirim pesan singkat melalui sms. Terkadang pula ia menghubungi Jasmine lewat telvon di akhir pekan, hanya sekedar menanyakan kabar. Jasmine sering memandangi foto Candra yang ia unduh melalui FB untuk melepas rindu. Setelah dirasa cukup memandang, Jasmine menulis beberapa kata dalam buku hariannya. Terkadang ia hanya mencorat coret dengan nama lelaki itu sehalaman penuh.
Setelah puas mencorat-coret air matanya mengucur deras. Tak habis kesedihan yang ia rasakan. Mencintai seseorang yang tak pernah ia temui. Ia hanya mampu mengenalinya lewat sms yang dikirim kepadanya, melalui suaranya yang merdu dan meluluhkan hati. Selalu berharap bahwa sikap care dan lembutnya mampu dirasakan dengan nyata jika suatu saat berjumpa.
Terkadang angan-angan itu sirna tergantikan oleh ketakutan akan sikap orang tuanya yang over possessive terhadapnya. Seperti Hakim, mereka selalu memberikan larangan-larangan yang pada Jasmine. Ini dan itu semuanya tentang kriteria lelaki yang harus ia nikahi. Juga hal-hal lain, yang melarangnya untuk berteman dengan seorang lelaki.
“Pokoke, kowe kudu rabi karo wong sing bagus, pinter lan mapan. Lan ojok dilalekake wong iku kudu wong Muhammadiyah. Siji maneh. Iki sing paling penting Nduk, ojok pisan-pisan wae kowe hubungan karo wong lanang. Maksiat iku, Elingo!”
Kata-kata itulah yang selalu teringat ketika Candra mengirim pesan singkat kepadanya. Ataupun ketika ia mendengar suara merdunya dari hand phone yang ia miliki. Suatu hari Jasmine pernah bertanya pada Bapaknya mengapa ia harus menikah dengan syarat yang begitu banyak dan ribet. Jawabnya hanya “karena harusnya seperti itu, agar kehormatan keluarga dan sesepuh tetap terjaga.” Demi kebahagiaan keluarga, orangtuanya seringkali memberikan sayrat-syarat konyol. Mengorbankan kebebasan anak-anaknya untuk memilih calon pendamping hidup sendiri. Dengan mengatasnamakan golongan, orang tuanya selalu memaksakan kehendak pada kedua anaknya.
Pembatasan untuk bergaul terhadap teman-teman lelakinya seringkali membuat hati si dara cantik tersebut dongkol. Seperti buah simalakama, sikap kedua orang tuanya itu membuat Jasmine seringkali keluar rumah tanpa pamit. Dihabiskannya waktu di malam hari dengan kongkow bersama teman-teman lelaki di Desa Sawunggaling. Terkadang dengan tipu muslihat ia berangkat dari rumah dengan membawa tas punggung dan menaiki ontel lipat, dengan alasan menyelesaikan tugas kuliah. Agar tak diketahui warga desa, Jasmine selalu mengajak teman-temannya untuk berkumpul di sebuah cafe pada sebuah Mall ternama, berharap tidak ada seorang pun mengenalnya sebagai anak dari seorang tokoh terpandang.
Jika diruntut ke belakang, keluarga Bapak Mukhlis memang berasal dari Trah Raden Sawunggaling, sesepuh pendiri desa Sawunggaling. Seorang putra keraton Lakarsantri yang sedari kecilnya mengenyam ilmu ketatanegaraan dan ilmu agama dari Paduka Oentoeng Sawung Jabung, pamangku kerajaan Lakarsantri. Setelah dewasa Raden Sawunggaling mendapatkan sebagian petak tanah kekuasaan dari Ayahnya. Dan dengan segera bersama dengan pangabdi kraton Lakarsantri, ia melakukan babat alas untuk didirikannya sebuah desa.
Beranjak dari trah keluarga yang terhormat, Pak Mukhlis mendidik anak-anaknya dengan keras. Ia berharap kedua putrinya tidak tertular oleh kenakalan remaja Desa Sawunggaling. Juga, bagi Pak Mukhlis, hanya dengan cara tersebut ia mampu menjaga kedua putrinya. Agar tak mendapat malu dikemudian hari.
***
Masih di depan jendela, Jasmine termangu sendu. Bagai merpati yang kedinginan saat hujan. Paras cantiknya tampak molek, sesekali ia menyeka air mata yang mengucur. Hujan tak lagi rintik, semakin lebat bersama angin kesedihan. Petir menyambar penat dan pekat, sibak nestapa dan sepinya malam. Guntur menderu, bergemuru bah letusan semeru. Mendung menggelantung pilu, bersama daun ia bagi rasa. Rindu menyiksa raga, menari diantara bulir-bulir duka. Ia pun dengan segera mengirim pesan singkat pada Candra, namun tiada balas.
Tak terasa sudah setengah jam ia menghampar rindu pada malam, di jendela, saat hujan memberi harap pada daun cinta yang semakin tumbuh. Berdering nyaring hand phone miliknya. Pecah sunyi malam yang membahana. Dengan segera ia memungutnya dari saku. Sebuah telvon dari Candra.
Senyum mengembang dari bibirnya. Lesung pipinya maniskan hujan yang kembali rintik. Suara merdu lelaki idaman buat ia tuli akan petir yang menggelegar. Saling bertanya kabar dan berbasa basi akan banyak hal. Jasmine mengulur waktu agar rindu terobati. Ditanyakannya banyak hal, tentang studi Candra di Jogja dan juga koleksi lukisan yang terbaru.
“Jasmine, aku ada lukisan untukmu. Kau mau?”
“Eh… lu…kis…an…? Ehm… Kok?”
“Ia, sengaja buat kamu emang, tapi… kamu yang harus ambil sendiri ke jogja.” Bersamaan dengan suara tawa yang terdengar dari handphone. “Gimana, mau?”
“ke jogaja? Eh, serius ini?” Jasmine menggaruk-garuk kepala. Sembari menggigit bibirnya, matanya terus memandangi air yang mangalir dari atas genting, dan kerling matanya jatuh pada permukaan tanah yang basah. Tak lama Ia pun berjalan kesana kemari. Sesekali merebahkan tubuh di kasur, bangkit lagi, dan menuju jendela lagi.
“Jogja, aku pengen kesana si. Pengen ngrasain suasana Jawa yang bercampur dengan suasana modern di sekitar alun-alun dan Malioboro. Tapi… aku tidur di tempat siapa? Aku nggak punya teman akrab yang bisa dijadiin tempat nginap. Kalaupun ada itupun di rumah Bude di Kauman… Hmmm, aku nggak mau, nggak bebas disana. Gak bisa jalan-jalan kemanapun aku suka. Maklum, Muhammadiyah tulen.”
“Bude kamu old fashion ya.”
“Yupz… orang kuno banget Candra.”
“Keluargaku juga seperti itu, tapi mereka lebih kuno lagi… maklum orang NU tulen. Dan tak jarang setiap aku pulang kampung ke Gresik, mereka selalu berceramah tentang fashion dan pakaian yang kukenakan, kata mereka aku berpakaian kurang sopan. Juga memrotes gelang dan kalung yang aku pakai. Dan sebelum kembali ke jogja mereka selalu mengingatkanku untuk wirid yang sampai ratusan kali. Mengingatkan puasa muteh dan tirakat yang lain. hmmm ribet juga si…”
“Tapi itu baru budeku Candra. lebih parah lagi orang tuaku yang selalu melarang ini dan itu. menyuruhku untuk bergaul ma anak teman-teman mereka. Dan kadang-kadang dijodohin gitu, emang gue siapa? Enak aja dijodoh-jodohin. Dan kalaupun mereka membolehkan aku untuk memilih laki mana yang akan kunikahi, mereka ngasi syarat harus orang Muhammadiyah, bukan yang lain. Hayoooo, kuno siapa coba?”
“dua-duanya kuno si, malah primitif banget.” Dia melanjutkan, “Setiap manusia kan punya hak menentukan pilihan.”
Jasmine terdiam sejenak, lalu mengiyakan pendapat Candra.
“Tapi Can, setiap manusia bukanya memiliki hak untuk menunaikan kewajiban ya?”
Hening, hujan pun berangsur reda. Perlahan purnama pancarkan sinarnya. Tetes airpun ragu tuk mengalir. Bintang bermekaran, menghampar pada setiap ufuk. Tetes air menari dalam rima yang indah, bersahut-sahutan mengisi heningnya malam.
“Ia juga si, tapi nggak usah dipaksain. Setiap orang kan memiliki cara sendiri, menentukan arahnya sendiri.”
“Nah, itu yang aku perjuangkan. Sering juga sih aku berdebat, hingga berjam-jam. Kadang-kadang hanya berakhir pada aku yang kena tampar, dan masuk kamar. Padahal hanya masalah pakaian yang aku pakai. Namun aku terkadang putus asa, andai Tuhan mau mendengar sesalku. Andai Tuhan memberikan umur panjang pada para Nabi dan RasulNya mungkin kita tak akan terpecah-pecah seperti ini. aku ingin bertemu Rasul dan menanyakan bagaimana Islam yang sebenarnya.”
“Ngigau kamu, mana bisa kita bertemu Rasul. Rasul juga manusia biasa, umurnya juga standardnya manusia seperti kita.”
“Bisa, aku pasti bisa menmuinya.” Suaranya gugurkan dedaunan pada taman. Pekakkan telinga bulan yang terdiam saat malam.
“aku ngantuk, udahan dulu ya Candra telvonnya. Aku mau tidur, nggak papa kan? Maaf ya, sebenaranya… sebenarnya…”
“sebenarnya apa?”
“Aku…”
“Aku apa Jasmine?”
“Aku sangat menyayangimu. Walau aku hanya ngerti kamu lewat FB, itu sudah cukup bagiku untuk menyayangimu. Walau kita berbeda… Aku memang anak dari seorang Muhammadiyah, tetapi orang tuaku tidak ada dalam diriku. Aku orang lain. Aku memanglah buah yang jatuh jauh dari pohonnya. Agamaku islam, bukan Muhammadiyah. Aku manusia yang diciptakan untuk menyembah Tuhan, bukan memuja sebuah bendera ataupun golongan apapun. Islam mengajariku untuk menghargai dan mencintai orang lain, lalu menyucikannya dalam ikatan pernikahan. Namun, aku tak mungkin menikahimu tanpa restu orang tuaku. Setidaknya kamu tahu apa yang aku maksudkan. Afwan Ya Habibi… ana asyif jiddan
Suara hening seketika. Tak sepatah kata pun terdengar dari handphone Jasmine, dan suara Candra tak lagi terdengar. Telvon telah terputus, dan seperti biasa, pembicaraan mereka berakhir ketika paket Ceesan telah habis.
***
kursi goyang tak henti bergerak. Asap menyembul dari mulutnya. Kumis tebal, jambang yang panjang. Kerutan dahi nampak begitu jelas. Rambutnya beruban nampak, tertutupi dengan kopyah putih yang kusam. Beberapa gigi sudah tanggal, tergantikan oleh besi dan logam. Setumpuk koran dari berbagai media berada di depannya. Diatas meja tua dari kayu jati. Ia jumput satu, Jakarta Post, satu-satunya koran yang menggunakan bahasa inggris. Di beranda ia mengulum setiap kata dalam fikirnya.
Sembari meminum kopi ia membaca koran itu dengan perlahan. Lembar demi lembar dan huruf demi huruf. Mata tua itu tak luput dari kacamata berwarna coklat dengan frame bundar, pemberian istrinya.
“Bapak, kok belum tidur? Sudah mala mini, tak bagus untuk kesehatan bapak.” Tiba-tiba Veve datang.
“Kamu to nduk, ia ini bapak lagi pengen baca baca dulu. Eman, koran yang bahasa inggris kan jarang kalian baca. Padahal bapak berlangganan koran ini biar kalian mau baca dan belajar bahasa inggris. Lagian, bapak juga pengen mengingat-ingat beberapa vocabulary, biar ndak lupa termakan usia. Oh iya, adimu dimana? Kok ndak keliatan.” Bertanya dengan logat medok.
“Oh, dia di kamarnya.”
laopo ning kamar ket mau? Paling yo telponan karo Candra. Anak kok ndak bisa diberitahu mana yang bener.”
“Sabar pak, mungkin sedang baca buku atau nulis. Sebentar Veve liatin di kamarnya.” Ia pun berlalu menuju kamar. Dan pak mukhlis melanjutkan membaca koran Jakarta Post yang berada kembali. Menjumputnya dengan tangan yang bergerak lamban karena usia senja.
“Bapak memang gampang naik darah nduk. Yang sabar ya.” Bu Mukhlis menegur Veve.
“Ia bunda, Veve tahu.” Berlalu ke kamar Jasmine.
Bagi Veve, Bapaknya adalah seorang sosok yang pantas dijadikan suri tauladan. Setiap gerak gerik dan tingkah lakunya selalu ia hayati. Kesederhanaan, rasa ingin tahu, dan sikap bersahajanya, selalu membuat setiap orang sungkan kepadanya. Tak lupa ia menularkan dalam diri anak-anaknya semua sikap tersebut. Namun, suatu waktu ia mendapati adik yang sangat ia sayangi terkena tampar karena Jasmine tak mau dijodohkan. Dan menolak untuk menikah dengan syarat-syrat yang telah diberikan oleh Bapaknya. Rasa benci pada diri Veve pun mulai tumbuh. Bapak macam apa itu.
Pintu kamar jasmine terbuka. Veve melihat Jasmine tergantung di jendela. Dengan jilbab putih yang masih ia kenakan. Wajah Jasmine pucat dengan lidah menjulur akibat kekurangan Oksigen. Tampak busa yang keluar dari mulutnya, beberapa mengotori daster putih yang dikirim lewat TIKI, dari Candra. Veve hanya berteriak histeris, menangis sekencang-kencangnya. Setiap sendi terbelenggu dalam tangis. Tak disangka ia melihat adik kesayangannya mati tergantung di jendela. Dengan jilbab hitam yang melilit pada lehernya.
“Bapaaaaaaaaaak…. Jasmine bapak… bapak…. Jasmine bapak….. bapak.. jasmine bapak…”
***
Fariq Shiddiq Tasaufy, Surabaya, 08 Mei 2012
Pada pikuk senja kota. Kuseduh pada cawan peraduan, tawa asa tangis tragis kehidupan.”Bapak, aku ingin panjat pohon kamboja.”,”Tunggu Bapak ingin tersenyum saat senja.Dan biarkan kuaduk sejenak nestapa.Kau masih menanti? Sini, duduklah barang sebentar.”,”Masih, Biarkan aku berdiri. Aku ingin bunga kamboja”, “Duduklah, Bapak belum menengok senja.Hujanpun baru menyapa, namun kamboja belum berbunga.”,”aku ingin pulang.”,”Sebentar, pak kusir masih tunggu kopi dari Emakmu, empat.”