Minggu, 04 Maret 2012

Jasmine; Hingga Lanjut Usia

Tiada hari, serumpun melati bersinggung dengan senyum pagi.
Kelopak mata bercumbu dengan kerling sari.
Putih, bahkan madu dalam diriku,
Hanya pudarkan suci makhkotamu.
Manis, semyummu iris hati setiap lapis.
Cantik, kau berseri kala senja.
Saat remang kota sayup-sayup dekapku manja.
Wangi, harummu kupuja, kuhiba saat aku lanjut usia.
Ah, jasmine... Setangkaipun aku tak ingin melupakanmu.

Ibuku; Inilah Nasibmu

Itu, saat dimana kau basuh rambutku.
Dengan segenap keikhlasanmu.
Jemari yang halus, begitu lunglai nan kurus.
Itu, saat kau papah aku pada pintu.
Dengan tegar kau getirkan senyummu.
Merah, bibir yang indah, tak ku lupa dan pula jengah.
Itu, saat kau kenakan baju padaku.
Dengan miris kau kembangkan tangis, dengan manis kau tumis habis.
Mendera, mengucur dari balik dapur.
Itu, saat kau ranum seonggok tinja.
Dengan mesra kau timang ia.

Itu, saat ibu menyayangiku dengan segenap pilu dan sendu masa kecilku.

"Bahkan dunia tak terhingga saat menimbangnya."

Desaku; Ia Yang Kuhiba

Itu, saat kukayuh sepeda tua, pagi buta,
saat ilmu sangat jarang di desa.
Hati riang bukan kepalang, lintasi ladang juga pamatang.
Sepetak padi pun berdendang,hiburku dengan lucu.
Dua carik, kukenakan dengan gagah.
Dwi warna berpeluh nan basah.
Sudah renta, bapak, hanya wariskan itu. Sudah kusam, ibu, jahitkan itu.

"Sudahlah, ia dikirim ke kota."

Itu, saat ilmu tak jua tiba.
Meja kursi tiba-tiba kosong.
Siswa-siswa melongok ompong.
Aku pulang, Aku jual;
Sudah renta, bapak, hanya wariskan itu.
Aku sulut arang, Aku bakar;
Sudah kusam, ibu, jahitkan itu.