Senin, 12 Maret 2012

Jenakanya Pemuda Bangsa

Dalam artikel-artikel sebelumnya, saya selalu menekankan pentingnya nilai moral dalam segala aspek sosial budaya serta perkembangannya. Dalam menghadapai tantangan zaman. Mengapa? Undur tersebut sangat berpengaruh pembentukan kualitas individu maupun kelompok. Nilai moral inilah yang akan mempengaruhi tujuan ‘idea’ setiap individu dalam tekanan aktualisasi diri terhadap kenyataan sosial bangsa Indonesia, yang dewasa ini sangat ini sedang demam demokrasi.

Suatu kali, saya berada di sebuah forum kecil, yang sedang membahas tentang korupsi dan premanisme FPI di monas. Bukan merupakan sebuah forum tersohor seperti Indonesian Lawyers Club, dengan kritik pedasnya, pula bukan sebuah forum lucu seperti Opera Van Java yang sedang booming dengan gombalan-romantisnya.

Dalam diskusi itu semua pihak selalu menggebu-gebu dalam menyatakan pendapatnya, misal; “Ini negara demokrasi, saya boleh berkata bebas dan menyampaikan argumen saya!”. Ada pula yang berkata, “Nggak usah emosi sob, ini negara bebas, ini negara demokrasi!”, yang paling pedas dan masih teringat di kepala serta membekas di hati, ”Ini negara demokrasi yang berlandas pada hukum, jadi jangan kau masukkan pemikiran islam dalam forum ini!”. Apakah seperti ini demokrasi?

Tersentak sekaligus sedih waktu itu. Semakin malu saya ketika dalam akhir forum tersebut mereka tidak mencapai satupun mufakat. Bagai mendewakan sesuatu tanpa mengetahui apa sebenarnya yang didewakan. Apakah benar, apakah dengan sadar mendewakannya, atau dengan penuh kesadaran meyakini dewa itu dari mulut orang lain, yang belum tentu dapat dibuktikan kebenarannya?

Saat akhir forum saya pun bertanya dengan tegas, “Teman-teman, anda tahu apa demokrasi itu?”. Krik… krik… krik… krik... suara jangkrik serasa memenuhi ruangan itu ketika mereka hanya terdiam bisu. Sejurus kemudian saya bertanya lagi, “dahulu mana kalian mengerti demokrasi, agama, atau pancasila?” krog… krog… krog… krog... dan suara jangkrikpun tergantikan oleh merdunya suara kodok. Anda tahu apa yang saya katakan kepada mereka? Kurang lebihnya seperti ini, “lha sampeyan kiro aku ngerti demokrasi? wong aku wae gak dong karo sistem iku, nek sampeyan gak ngerti lapo kok nggedabrus? Koyok tong mlompong ae cak!”(eyaaaa… logat jawanya keluar deeeeh…o_O’>…)

Disini saya tidak ingin menjelaskan makna demokrasi ataupun nilai—hukum yang terkandung di dalamnya. Hanya saja penekanan lebih ditujukan terhadapa sikap teman-teman saya yang sangatlah kelewatan. Sangat irelevan bagi saya ketika anda berkoar tentang demokrasi, ternyata anda tidak memahami segala sesuatu yang diemban dan dicita-citakan olehnya, bagaikan memakan buah simalakama bukan? Dalam peristiwa itu, sangat nampak sekali ‘instant stereotype’ pemuda bangsa, padahal mereka adalah tonggak estafet perubahan bangsa.

Entah, rasa malu atau gengsi dan sekedar mengikuti arus biar trendi. Para mahasiswa, juga pemuda, seperti termakan oleh iklan “junkfood”, dan akhirnya membelinya di restoran kelas “Mc Dy” atau KFC, tanpa mengetahui bagaimana pengolahan makanan serta bahan-bahan yang digunakan di dalam proses pembuatannya. Para mahasiswa seperti melihat setangki air segar ditengah gurun sahara. Hingga mereka tidak sadar bahwa air tersebut hanya fatamorgana (cie kayak lagu aja boooook….)

Pemahaman pemuda dengan cara seperti itu, cenderung mengakibatkan terciptanya iklim demokrasi praktis di kemudian hari, yang bisa mengakibatkan tidak sehatnya iklim politik dalam negeri. Apakah seperti itu saharusnya seorang pemuda? Sangat wajar ketika seorang pemuda seperti saya, (emang muda? Wajah lo itu boros Fariiiiiiiq!) menanyakan bagaimana seharusnya seorang pemuda itu? Apakah bekal yang harus dipersiapkan dalam mengaktualisasikan diri?

Sikap meniru memanglah menjadi fitroh kita sebagai manusia. Sedari kecil kita meniru gerakan Ibu ataupun Ayah kita setiap harinya. Pernah suatu ketika saya yang masih belia dan imut-imut. Meminjam sepatu Abi untuk pergi ke kampus, dan sekonyong-konyong langsung jalan kaki menuju jalan raya. (mau ngapain riq jadi asdos?). Coba anda tebak berapa umur saya waktu itu? baru sekitar empat tahun. Bagaimana dengan anda? Apakah yang anda tirukan ketika kecil? Mungkin ketika ayah kita makan tangan kiri, minum sambil berdiri, dan mandi sambil…??? kita pasti akan menirunya juga, iya bukan? Tetapi, apakah anda yang mahasiswa akan menerapkan cara yang sama ketika anda dihadapkan pada sesuatu hal yang baru? Apakah anda yang sudah dewasa dan penuh kharisma, akan meniru begitu saja apa yang ada di depan anda? (anak kecil dong….^_^)

Ada yang mau ikut saya menjawab dengan lantang untuk berkata “Tidak”? kata ‘Tidak’ dalam masalah ini lebih ditekankan pada instant stereotype yang telah menjadi kebiasaan para mahasiswa. sikap inilah yang menjadikan kita seperti anak kecil, hanya meniru semua laku sosial yang ada dihadapan kita. Diawali dari fashion, life style, music, art, dan literary work, akhirnya kebiasaan meniru secara instan, dapat dikatakan sebagai faktor terbesar dalam terbentuknya pola hidup konsumerisme yang berlebihan pada para mahasiswa serta masyarakat pada umumnya—terputusnya alur kreativitas atau produktivitas mahasiswa, dan akhirnya berdampak sampai pada kancah politik juga (bagian awal artikel ini).
Karena itu, tidak sepatutnya kita menyalahkan objek yang ditiru oleh para pemuda atau mahasiswa, melainkan moralitas kitalah yang perlu disalahkan. Moral (kebiasaan yang melekat) instant stereotype memang perlu dihilangkan agar proses asimilasi dan aktualisasi pada segala hal yang baru dapat berjalan dengan seimbang, dengan batasan norma yang kita memiliki sebagai manusia berbudaya. “Dimana ada keyakinan, kekuatan, kelembutan, dan keseimbangan yang menyatu, maka disana ada keindahan yang tak terkatakan oleh kata-kata, dan semua itu hanya bisa dorasakan oleh batin yang bijak.” (Y.M. Bhante Pradipa)

(Sekedar bacaan sebagai teman saat minum kopi; Perlu diingat lagi, meniru itu bukan atau tidak selamanya memahami. Qabilun Li al-taghyir wa al-niqas wa’ al-tajdid ^_^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar