Sabtu, 04 Februari 2012

Wonokromo, Senja Itu


Selalu, kupandangi setiap hujan yang turun—ingatkanku!.
Yang lalu, saat kupandang wajahmu.
Beranjak duka bersama kereta senja yang tiba.
Lesung pipimu masih memasung hatiku pada tiang pancang,
di stasiun itu, dimana kau hujamkan tawa tuk lukaku.
Mata sayumu masih merayuku tuk bertahan walau terabaikan.


Surabaya, 22 januari 2012

An Anecdote; Romanticism, Pop and Prestige


Kepekaan seorang penulis terhadap kondisi sosial yang ia diami. Dapat mempengaruhi proses imajinernya dalam menghasilkan sebuah karya. Setiap tokoh, setting dan alur cerita, bisa dikatakan sebuah penggambaran kecil konflik pada kelas yang ia diami. Melalui karya sastra itu, seorang aktivis sastra seharusnya mampu menyampaikan nilai-nilai moral yang ada. Bukan malah mengikuti trend pasar yang ada saat ini.

Beberapa teman mengeluh kepada saya. Karena mereka terkena “writer’s block syndrome”, yang memaksa mereka untuk berhenti berkarya , dan bahkan menyelesaikan thesisnya. Entah mengapa mereka selalu menggerutu bahwa belum ada inspirasi yang pas untuk ditulis. Bagi saya hal itu tidak karena inspirasi yang belum datang. Bukan juga karana ide itu belum jatuh dari langit. Seperti musim hujan yang selalu saja melanda akhir-akhir ini. Semua inspirasi ataupun ide kreatif kita sebenarnya ada pada kepekaan kita terhadap kondisi sosial yang ada. Karena segala sumber sastra terdapat pada kondisi masyrakat yang ada, entah politik, ekonomi, agama dan isu-isu yang lain.

Dalam hal ini, pentingnya kepekaan aktivis sastra terhadap kondisi lingkungan yang ada. Tidak dimaksudkan untuk mendorong  mereka untuk menjadi penulis musiman, yang selalu terbawa oleh arus minat pasar. Kepekaan terhadap  kondisi sosial yang ada di sekitar kita. Seharusnya tidak membuat kita lata terhadapnya. Karana mutu sebuah karya sastra itu terlihat pada fungsi estetisnya yang tidak pernah habis, walu digerus oleh zaman. Setiap karya sastra yang bisa bertahan lama pada hakikatnya adalah suatu moral, baik dalam hubungannya dengan kebudayaan atupun dengan setiap individu dalam masyarakat. Sangat disayangkan jika sekarang banyak sekali muncul karya sastra pop atau “lata” yang hanya dibuat untuk memenuhi pangsa pasar yang ada, tanpa memandang unsur moral dan fungsi estetis sebuah karya.

Gejala lata itu terlihat ketika novel Ayat Ayat Cinta sedang booming. Di gramedia terlihat ada beberapa penulis yang menggubah judul tersebut, diantaranya; Dzikir Cinta, Nada-Nada Cinta, dan Tasbih Cinta. Saya belum mengetahui motif dibalik pembuatan judul tersebut. Entah karena mengejar kepopuleran secara instan atau hanya mengikuti pangsa pasar yang berkembang saat itu. padahal belum pasti juga judul-judul tersebut mampu mendongkrak penjualan, jika tidak dibarengi dengan isi novel yang estetis serta normatif.

Di lain pihak, dunia sastra negeri ini mungkin telah didiami oleh para aktivis cinta, yang menyuguhkan karya sastra hingga membuat kita bermental cengeng. Romantisme masa lalu yang menggambarkan kisah cinta si kaya dan si miskin, si buruk rupa dan si rupawan, atau kisah ramasinta modern menurut saya. Tidaklah pantas jika dihadapkan pada kondisi sosial masyarakat yang semakin terhimpit oleh krisis IPTEK, IMTAQ dan Moneter yang berkepanjangan, sangat miris bukan?

Memang, sangatlah naïf jika kita tidak mengharapkan sebuah penghargaan akan karya yang telah kita buat. Namun, bagi saya sebuah penghargaan itu akan datang dengan sendirinya jika kita juga memberikan penghargaan yang setimpal terhadap masyarakat. Melalui karya sastra yang bermoral serta memenuhi fungsi estetis yang ada. Melalui karya sastra itu juga, seorang aktivis sastra, mampu menciptakan karya-karya yang memberi semangat kepada setiap individu untuk berbenah dan merubah bangsa ini. menjadi bangsa yang tegar, bukan cengeng. Menjadi bangsa yang rendah hati, bukan gila penghargaan pada sebuah karya.

(Artikel ini sengaja kubuat untu sahabatku, Nurmansyah, yang selalu menyemangatiku untuk berkarya melalui karyanya yang brilian… tidak ada sedikitpun niat untuk menyindir atau mengejek sastra pop. Asalkan karya pop tersebut benar-benar kaya dan tidak “lata”. Mungkin dengan mengawali pada diri sendiri. Kita bisa merubah keadaan di sekitar kita. Salam budaya untuk teman-teman…^_^…)
Penulis, Surabaya, 01 Februari 2012

Enlightenment; Your Status, Your Act, and Prestige That You Got


Setiap kehidupan memiliki sisi dan dimensi yang berbeda. Tidak salah jika terdapat sekat antara setiap dimensi. Di  dalam setiap stratum yang ada, setiap individu selalu berinteraksi terhadap kondisi sosial yang ada. Mereka menjalankan peran sesuai dengan kondisi yang berbeda-beda. Di dalam interaksinya kepada keadaan sosial, individu akan mengalami sebuah gejala kejiwaan. Dalam gejala kejiwaan yang dialami, mereka akan menyampaikan ide-ide yang secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi kondisi masyarakat pada dimensi yang didiami. Ide-ide tersebut - yang tertuang dalam sebuah karya seni, sastra, filsafat, dan berbagai macam disiplin ilmu yang lain—menunjang pemenuhan tanggung jawab mereka terhadap peran yang telah dibebankan sebelumnya.

Dalam setiap dimensinya, stratum secara tidak langsung  memisahkan para individu dengan sekat-sekat yang tipis. Melalui norma-norma dan sistem penilaian yang ada, stratum menetapkan status kepada setiap individu. Hal itu agar mereka memiliki peran yang harus mereka lakukan secara adil dan professional. Setiap peran yang telah menempel pada setiap individu memiliki kontribusi masing-masing terhadap kondisi stratum yang ada. Sehingga mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap setiap status yang menempel pada individu. Tak pelak, masyarakat membedakan setiap status yang ada, sehingga mereka mampu menentukan besaran prestige yang akan diberikan kepada setiap status dan peran yang ada.

Sebagai seorang mahasiswa sastra yang masih bingung. Saya sering bertanya pada orang tua dan teman-teman “Kemana setelah saya lulus?” dan “Saya gunakan sebagai apa ilmu yang saya dapat setelah pelulusan?”. Mungkin pertanyaan seperti itu biasanya hanya menghantui mereka yang mendapatkan status mereka sebagai mahasiswa secara terpaksa, atau secara latah mengikuti teman-teman mereka mengenyam bangku kuliah karana menganggap kuliah itu sebuah trend yang harus diikuti agar tidak merasa terkucilkan. Atau mungkin mereka tidak mengetahui peran mereka sebagai mahasiswa, dan lebih jauh lagi, mungkin mereka masih bingung harus berperan sebagai apa dalam kondisi stratum yang tidak menentukan seperti saat ini. Atau mungkin yang satu ini, mereka hanya memikirkan ide-ide cemerlang mereka, namun tidak melakukannya untuk melakukan pemenuhan peran mereka sebagai mahasiswa?! Dalam hemat saya, sebelum mencari solusi perihal masalah tersebut. Selayaknya kita harus mencari akar permasalahan tersebut dengan sudut pandang yang obyektif. Agar menghasilkan kesimpulan yang tidak “bertepuk sebelah tangan”.

Dalam hal ini, masyarakat terkadang beranggapan, bahwa mahasiswa itu sebenarnya hanyalah segerombolan orang yang hanya bisa berteori tanpa memahami fakta yang berada di dalam lingkungan sosial mereka. Sebut saja “sok tahu”, mengapa seperti itu? Mahasiswa sekarang ini,  cenderung hanya berfikir bagaimana menjalankan peran mereka sebagai “perubah” bangsa. Mereka mungkin lebih membutuhkan waktu yang lama untuk merenung daripada berbuat. Contohnya, mereka sering menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi hanya untuk membicarakan bagaimana seharusnya bangsa ini? bagaimana seharusnya kaum kere itu diperlakukan? Serta bagaimana seharusnya kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap mereka yang kere tersebut? Malah terkadang mereka sangat asik memperdebatkannya hingga terjadi “debat kusir” yang berkepanjangan. Padahal belum tentu juga mereka mengetahui secara baik akar konflik sosial yang sedang terjadi.

Lebih ekstrim lagi, mereka sampai turun ke jalan, berteriak sampai pita suara mereka hampir putus. Mengecam semua kebijakan yang ada. Mencaci maki pemimpin mereka layakanya anjing. Bahkan membakar wajah pemimpin kita dalam foto. Alangkah baiknya sebagai mahasiswa, mereka menuliskan dan “mengkaryakan” ide-ide dan, atau protes-protes terhadap suatu permasalahan sosial ke dalam sebuah kemasan yang apik. Entah melalui suguhan teater, drama atau aktivitas-aktivitas lain yang bermanfaat untuk mendidik orang lain. Bukan dalam perdebatan panjang yang tak akur. Bukan pula dalam aksi yang unjuk rasa yang membuat resah pengendara jalan. Karena belum tentu masyarakat mendengar orasi panjang kita, dan mau menerima aksi kita turun ke jalan. Mungkin akan sangat damai dan lebih berbudaya negeri ini jika mahasiswanya mau berfikir dan banyak berbuat.

Di sisi lain, sangatlah wajar dan lebih baik, jika seorang mahasiswa itu melakukan perannya sebaik mungkin sesuai dengan status yang mereka peroleh. Jika mereka dari jurusan sastra, seharusnya mereka lebih memfokuskan diri pada hal itu. Begitu pula dengan mahasiswa-mahasiswa yang lainnya, yang melakukan studi pada jurusan yang berbeda. Karena fokus pada peran yang mereka emban sangat membantu mereka dalam menentukan skala prioritas dalam bertindak.

Memang, sebuah kebutuhan menurut saya jika seorang mahasiswa memiliki keinginan terpendam untuk memiliki prestige yang tinggi di mata masyarakat. Beberapa elemen menilai bahwa aksi turun ke jalan tersebut adalah bagian dari proses existensi diri untuk mendapatkan besaran prestige yang tinggi. Hal itu agar diri mereka mendapatkan kepuasan individu. Namun, dalam hemat saya, bukan dengan cara seperti itu (turun ke jalan) mereka mendapatkannya. Sepantasnya mereka memenuhinya dengan melakukan peran yang telah menjadi tanggung jawab mereka— sebagai “perubah bangsa”, secara professional dan proporsional. Karena pelaksanaan peran secara profesional sebagai agen perubahan, sangatlah digutuhkan oleh masyrakat. Dan tidak dalam bentuk orasi dan aksi turun ke jalan. Melainkan dalam bentuk bakti sosial kepada masyrakat.

Lebih jauh lagi, beberapa teman sastra di kampus, sering curcol (curhat colongan) kepada saya. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa mereka tidak bisa mendapatkan uang yang banyak dan prestige yang layak, jika mereka terlalu idealis dalam melakukan perannya sebagai mahasiswa sastra. Dengan tegas saya sampaikan, apakah sastra mengajarimu untuk mencari uang? Bukankah semua hal yang bersangkutan dengan uang itu ada dalam disiplin ilmu ekonomi? Lalu kenapa anda masuk ke jurusan sastra kalau niatnya hanya untuk menjadi orang yang berkantong tebal?  (Jadi pedagang saja deeeeh…^_^…)

Dalam pemenuhan peran mereka senagai mahasiswa. Kendala pemenuhan peran juga terhalang oleh sistem nilai pada suatu prestige yang cenderung bertepuk sebelah tangan. Mereka juga telah melakukan pembedaan yang “memihak” terhadap mahasiswa itu sendiri. Karena, setelah mahasiswa tamat dari bangku perkuliahan. Masyarakat, dalam hal ini, secara semenah-menah mengklasifikasikan para mahasiswa dalam skala prestige yang berbeda. Bagi mereka, secara tidak langsung identitas seorang mahasiswa itu “dihargai” dengan menggunakan satu kriteria; Dari Universitas mana mereka berasal?

Masyarakat dewasa ini cenderung memberikan prestige yang lebih besar pada seorang lulusan mahasiswa dari kampus yang tersohor. Contoh kecil, lulusan Unesa dan lulusan UI. Mungkin bila ada dua calon besan, satu dari Unesa dan satu dari UI, para Ayah dan Ibu pertama-tama langsung menoleh pada besan yang pernah mengampu pendidikan pada Universitas Indonesia (sedikit joke ^_^).

Namun sebenaranya bukan itu sebenarnya inti dari pembedaan prestige antara lulusan Unesa dan lulusan UI. Pernah suatu ketika saya berbincang dengan seorang guru. Beliau sudah duapuluh tahun menjadi PNS pada SMP negeri di Kota Lamongan. Saat itu SMP tersebut sedang membutuhkan guru bantu untuk pelajaran bahasa inggris. Dan kebetulan saya memiliki teman yang sudah lulus kuliah tetapi sedang menganggur. Saya bertanya pada beliau, “Bapak, mana yang akan bapak pilih menjadi guru bantu di sekolah ini, jika ada dua sarjana muda. yang pertama lulusan UI dan yang kedua lulusan Unesa? Yang satu dari jur….”, belum sempat menuntaskan pertanyaan saya, beliau langsung menjawab. “Ya jelas dari UI lah, kan mutu kampus UI lebih tinggi daripada Unesa.

Selang setelah itu saya bertanya lagi, “Bapak kan belum tahu yang UI jurusan apa dan yang Unesa jurusan apa, kok sudah menentukan pilihan, bagaimana kalau jurusannya tidak sesuai dengan apa  yang dibutuhkan disini?” beliau menimpali,”Memang yang UI jurusan apa dan yang Unesa jurusan apa?”. Saya pun menjawab. “yang UI jurusan Sastra Arab dan yang Unesa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Coba anda bayangkan bagaimana raut wajah beliau di depanku ketika mengerti bahwa sistem penilaian beliau salah? Hmmmm… tetapi beliau masih bisa mengelak dengan berbagai alasan yang membenarkan sIstem penilaiannya. Menurut beliau, almamamater yang disandang oleh mahasiswa adalah penilaian pertama yang menjadi acuhan. Karena mutu sebuah universitas itu berbanding lurus dengan mutu mahasiswa yang ada. Sempat berang terhadap beliau, akhirnya amarahku tertahan karena beliau mengakui bahwa, memang jurusan mahasiswa UI tersebut tetap tidak tepat, jika dihadapkan pada kebutuhan SMP tersebut, yaitu guru bantu bahasa inggris.

Pilihan awal beliau kepada mhasiswa UI tersebut, memang tidak bisa menjadi sebuah kesimpulan mutlak. Bahwa, pola ukur masyarakat secara umum dalam menentukan prestige terhadap seorang lulusan mahasiswa dari kampus elite, memiliki nilai yang lebih daripada lulusan mahasiswa dari kampus biasa. Akan tetapi, jika saya membayangkan ada seratus orang yang berfikiran sama seperti beliau, dan setiap orangnya menjabat sebagai kepala Human Resource Department. Mungkin akan ada seratus mahasiswa pula yang akan mendapat “perendahan status” akibat sistem penilaiaan yang salah. Wanna prove it?

Pada akhirnya, sebagai mahasiswa. selayaknya kita bisa memahami peran kita dengan baik. Sebagai perubah bangsa dengan karyanya. Ya, semua ini saya tulis ketika saya menengok pada sebuah karya seorang sastrawan yang pernah menyinggung prihal peran kita sebagai mahasiswa. sebut saja W. S. Rendra, yang mempertanyakan untuk apa kita mengenyam bangku kuliah? Untuk siapa semua ilmu yang kita dapat? Untuk pembebasan atau penindasan? Ada beribu cara untuk menggapai pembebasan, merengkuh sebuah penghargaan, dan mendapatkan uang serta ketenaran yang berlimpah. Tak dapat dipungkiri semua usaha itu akan merubah kondisi stratum yang kita diami.  Setiap individu pasti memiliki cara dalam pemenuhannya terhadap peran yang telah disandang. Salahkah jika kita menentukan peran dan cara yang tepat untuk menuntaskannya?

Mungkin jika semua berfikiran sama, berkeyakinan sama untuk berbenah demi prestige yang pantas, serta benar benar memahami apa dan bagaimana sebuah peran itu harus berfungsi. Sistem penilaian dalam masyarakat yang memihak, orasi yang berdahak, serta debat kusir. Akan segera tergantikan dengan pengkaryaan sebuah ide terhadap konflik sosial yang kita hadapi. Dan pastinya, mahasiswa tak lagi bingung “kemana setelah lulus ya?

(Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang sedang galau pada masa depannya. Tidak ada maksud sedikitpun untuk menghakimi atau menistai segala bentuk pemenuhan peran yang telah anda lakukan. Salam budaya….^_^…)