Rabu, 09 Mei 2012

Saat Hujan, Kuncupnya Tak Lagi Mekar

“Ia supel, care, bawaannya kalem ketika ngomong sama cewek.”
“Tapi, dia seperti memberi harapan ke aku Ve.”
“Mungkin kamu yang menyalah artikan perhatian dia ke kamu, wajar kan sebagai teman?”
Ia terdiam, berdiri di depan jendela. Matanya mulai sembab, menerawang dengan bebas menuju kegelapan malam yang sepi, bersamaan dengan rintik hujan yang mulai turun. Suara gemericik air di atas genting berirama pilu.
“Hey… sudahlah jangan kau bersedih. Masih banyak hal lain yang perlu kau fikirkan.”
Veve berlalu menuju kamarnya. Berlahan ia manaiki tangga kayu dengan kedua lampu di sisi kiri dan kanan, yang sengaja di desain minimalis-kontemporer. Lukisan yang terpasang rapi di dinding, sesekali menghentikan langkahnya. Ingatannya kembali tumpah ketika melihat sebuah lukisan realis yang sudah tua, dimana terdapat sosok lelaki dengan diapit kedua putri. Lukisan itu hadiah dari seorang sahabat di Jogja yang kini sedang melakukan studi S2 di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Seorang sahabat yang selalu menemaninya untuk kongkow di alun-alun jogja, dan sesekali mencari turis yang sedang lewat untuk diajak berbincang tentang perkembangan seni dan sastra di mancanegara. Mereka berdua memang berada di Fakultas yang sama, bedanya Veve mengambil studi Sastra Indonesia, dan lelaki tersebut mengambil studi Seni Rupa.
Mereka berdua saling bertemu pada saat kampus mengadakan masa pengenalan kehidupan kampus (OSPEK) terhadap mahasiswa baru. Kebtulan Veve berada satu kelompok dengan lelaki tersebut. Berasama dalam satu kelompok membuat Veve mengenal dengan baik bagaimana sikap dan wataknya. Sikapnya yang sangat care terhadap teman-teman, sangat membuat dia menaruh hiba kepadanya. Lelaki yang sangat membuat Ia tergiala-gila, walaupun tak sempat dan tak ada keberanian untuk menyatakan segenap perasaan kepadanya.”
“Ah, sudahlah aku tak pantas lagi mengharapmu Dick…” Mengeluh.
Veve kembali melanjutkan langkah kakinya. Sesampainya di kamar, ia langsung melemparkan tubuhnya ke kasur, berguling-guling. Tak lama, ia genggam sebuah novel Lady Chatterley’s Lover karya D. H. Lawrence. Ia baca dengan berlahan, karena ia tak begitu mamahami bahasa Inggris dengan fasih. Sesekali ia membuka kamus Oxfford kecil untuk mencari makna beberapa kata sukar yang Ia temui.
***
Matanya semakin sembab. Air mata tak henti mengucur dari kedua matanya. Di luar masih gerimis bercampur dengan petir yang menggelegar. Dedaunan melambai gontai padanya. Tak satupun bintang yang terlihat malam itu, bulan pun harus mundur beberapa waktu pada rintik hujan yang pilu. Raut wajah lelaki itu bersliweran kesana kemari dalam pikirnya. Sikap lembut dan perhatian yang ia tunjukkan membuat hati menghiba pada hujan. Bertanya akan rasa yang ia miliki pada setiap jentik hujan malam itu. Lelaki yang bersahaja, cerdas dan lembut sekaligus tegas dalam satu waktu, telah membuatnya tergila-gila.
Lelaki itu tak pernah ia jumpai. Ia hanya berkenalan melalui akun facebook. Tidak jarang, lelaki tersebut mengirim pesan singkat melalui sms. Terkadang pula ia menghubungi Jasmine lewat telvon di akhir pekan, hanya sekedar menanyakan kabar. Jasmine sering memandangi foto Candra yang ia unduh melalui FB untuk melepas rindu. Setelah dirasa cukup memandang, Jasmine menulis beberapa kata dalam buku hariannya. Terkadang ia hanya mencorat coret dengan nama lelaki itu sehalaman penuh.
Setelah puas mencorat-coret air matanya mengucur deras. Tak habis kesedihan yang ia rasakan. Mencintai seseorang yang tak pernah ia temui. Ia hanya mampu mengenalinya lewat sms yang dikirim kepadanya, melalui suaranya yang merdu dan meluluhkan hati. Selalu berharap bahwa sikap care dan lembutnya mampu dirasakan dengan nyata jika suatu saat berjumpa.
Terkadang angan-angan itu sirna tergantikan oleh ketakutan akan sikap orang tuanya yang over possessive terhadapnya. Seperti Hakim, mereka selalu memberikan larangan-larangan yang pada Jasmine. Ini dan itu semuanya tentang kriteria lelaki yang harus ia nikahi. Juga hal-hal lain, yang melarangnya untuk berteman dengan seorang lelaki.
“Pokoke, kowe kudu rabi karo wong sing bagus, pinter lan mapan. Lan ojok dilalekake wong iku kudu wong Muhammadiyah. Siji maneh. Iki sing paling penting Nduk, ojok pisan-pisan wae kowe hubungan karo wong lanang. Maksiat iku, Elingo!”
Kata-kata itulah yang selalu teringat ketika Candra mengirim pesan singkat kepadanya. Ataupun ketika ia mendengar suara merdunya dari hand phone yang ia miliki. Suatu hari Jasmine pernah bertanya pada Bapaknya mengapa ia harus menikah dengan syarat yang begitu banyak dan ribet. Jawabnya hanya “karena harusnya seperti itu, agar kehormatan keluarga dan sesepuh tetap terjaga.” Demi kebahagiaan keluarga, orangtuanya seringkali memberikan sayrat-syarat konyol. Mengorbankan kebebasan anak-anaknya untuk memilih calon pendamping hidup sendiri. Dengan mengatasnamakan golongan, orang tuanya selalu memaksakan kehendak pada kedua anaknya.
Pembatasan untuk bergaul terhadap teman-teman lelakinya seringkali membuat hati si dara cantik tersebut dongkol. Seperti buah simalakama, sikap kedua orang tuanya itu membuat Jasmine seringkali keluar rumah tanpa pamit. Dihabiskannya waktu di malam hari dengan kongkow bersama teman-teman lelaki di Desa Sawunggaling. Terkadang dengan tipu muslihat ia berangkat dari rumah dengan membawa tas punggung dan menaiki ontel lipat, dengan alasan menyelesaikan tugas kuliah. Agar tak diketahui warga desa, Jasmine selalu mengajak teman-temannya untuk berkumpul di sebuah cafe pada sebuah Mall ternama, berharap tidak ada seorang pun mengenalnya sebagai anak dari seorang tokoh terpandang.
Jika diruntut ke belakang, keluarga Bapak Mukhlis memang berasal dari Trah Raden Sawunggaling, sesepuh pendiri desa Sawunggaling. Seorang putra keraton Lakarsantri yang sedari kecilnya mengenyam ilmu ketatanegaraan dan ilmu agama dari Paduka Oentoeng Sawung Jabung, pamangku kerajaan Lakarsantri. Setelah dewasa Raden Sawunggaling mendapatkan sebagian petak tanah kekuasaan dari Ayahnya. Dan dengan segera bersama dengan pangabdi kraton Lakarsantri, ia melakukan babat alas untuk didirikannya sebuah desa.
Beranjak dari trah keluarga yang terhormat, Pak Mukhlis mendidik anak-anaknya dengan keras. Ia berharap kedua putrinya tidak tertular oleh kenakalan remaja Desa Sawunggaling. Juga, bagi Pak Mukhlis, hanya dengan cara tersebut ia mampu menjaga kedua putrinya. Agar tak mendapat malu dikemudian hari.
***
Masih di depan jendela, Jasmine termangu sendu. Bagai merpati yang kedinginan saat hujan. Paras cantiknya tampak molek, sesekali ia menyeka air mata yang mengucur. Hujan tak lagi rintik, semakin lebat bersama angin kesedihan. Petir menyambar penat dan pekat, sibak nestapa dan sepinya malam. Guntur menderu, bergemuru bah letusan semeru. Mendung menggelantung pilu, bersama daun ia bagi rasa. Rindu menyiksa raga, menari diantara bulir-bulir duka. Ia pun dengan segera mengirim pesan singkat pada Candra, namun tiada balas.
Tak terasa sudah setengah jam ia menghampar rindu pada malam, di jendela, saat hujan memberi harap pada daun cinta yang semakin tumbuh. Berdering nyaring hand phone miliknya. Pecah sunyi malam yang membahana. Dengan segera ia memungutnya dari saku. Sebuah telvon dari Candra.
Senyum mengembang dari bibirnya. Lesung pipinya maniskan hujan yang kembali rintik. Suara merdu lelaki idaman buat ia tuli akan petir yang menggelegar. Saling bertanya kabar dan berbasa basi akan banyak hal. Jasmine mengulur waktu agar rindu terobati. Ditanyakannya banyak hal, tentang studi Candra di Jogja dan juga koleksi lukisan yang terbaru.
“Jasmine, aku ada lukisan untukmu. Kau mau?”
“Eh… lu…kis…an…? Ehm… Kok?”
“Ia, sengaja buat kamu emang, tapi… kamu yang harus ambil sendiri ke jogja.” Bersamaan dengan suara tawa yang terdengar dari handphone. “Gimana, mau?”
“ke jogaja? Eh, serius ini?” Jasmine menggaruk-garuk kepala. Sembari menggigit bibirnya, matanya terus memandangi air yang mangalir dari atas genting, dan kerling matanya jatuh pada permukaan tanah yang basah. Tak lama Ia pun berjalan kesana kemari. Sesekali merebahkan tubuh di kasur, bangkit lagi, dan menuju jendela lagi.
“Jogja, aku pengen kesana si. Pengen ngrasain suasana Jawa yang bercampur dengan suasana modern di sekitar alun-alun dan Malioboro. Tapi… aku tidur di tempat siapa? Aku nggak punya teman akrab yang bisa dijadiin tempat nginap. Kalaupun ada itupun di rumah Bude di Kauman… Hmmm, aku nggak mau, nggak bebas disana. Gak bisa jalan-jalan kemanapun aku suka. Maklum, Muhammadiyah tulen.”
“Bude kamu old fashion ya.”
“Yupz… orang kuno banget Candra.”
“Keluargaku juga seperti itu, tapi mereka lebih kuno lagi… maklum orang NU tulen. Dan tak jarang setiap aku pulang kampung ke Gresik, mereka selalu berceramah tentang fashion dan pakaian yang kukenakan, kata mereka aku berpakaian kurang sopan. Juga memrotes gelang dan kalung yang aku pakai. Dan sebelum kembali ke jogja mereka selalu mengingatkanku untuk wirid yang sampai ratusan kali. Mengingatkan puasa muteh dan tirakat yang lain. hmmm ribet juga si…”
“Tapi itu baru budeku Candra. lebih parah lagi orang tuaku yang selalu melarang ini dan itu. menyuruhku untuk bergaul ma anak teman-teman mereka. Dan kadang-kadang dijodohin gitu, emang gue siapa? Enak aja dijodoh-jodohin. Dan kalaupun mereka membolehkan aku untuk memilih laki mana yang akan kunikahi, mereka ngasi syarat harus orang Muhammadiyah, bukan yang lain. Hayoooo, kuno siapa coba?”
“dua-duanya kuno si, malah primitif banget.” Dia melanjutkan, “Setiap manusia kan punya hak menentukan pilihan.”
Jasmine terdiam sejenak, lalu mengiyakan pendapat Candra.
“Tapi Can, setiap manusia bukanya memiliki hak untuk menunaikan kewajiban ya?”
Hening, hujan pun berangsur reda. Perlahan purnama pancarkan sinarnya. Tetes airpun ragu tuk mengalir. Bintang bermekaran, menghampar pada setiap ufuk. Tetes air menari dalam rima yang indah, bersahut-sahutan mengisi heningnya malam.
“Ia juga si, tapi nggak usah dipaksain. Setiap orang kan memiliki cara sendiri, menentukan arahnya sendiri.”
“Nah, itu yang aku perjuangkan. Sering juga sih aku berdebat, hingga berjam-jam. Kadang-kadang hanya berakhir pada aku yang kena tampar, dan masuk kamar. Padahal hanya masalah pakaian yang aku pakai. Namun aku terkadang putus asa, andai Tuhan mau mendengar sesalku. Andai Tuhan memberikan umur panjang pada para Nabi dan RasulNya mungkin kita tak akan terpecah-pecah seperti ini. aku ingin bertemu Rasul dan menanyakan bagaimana Islam yang sebenarnya.”
“Ngigau kamu, mana bisa kita bertemu Rasul. Rasul juga manusia biasa, umurnya juga standardnya manusia seperti kita.”
“Bisa, aku pasti bisa menmuinya.” Suaranya gugurkan dedaunan pada taman. Pekakkan telinga bulan yang terdiam saat malam.
“aku ngantuk, udahan dulu ya Candra telvonnya. Aku mau tidur, nggak papa kan? Maaf ya, sebenaranya… sebenarnya…”
“sebenarnya apa?”
“Aku…”
“Aku apa Jasmine?”
“Aku sangat menyayangimu. Walau aku hanya ngerti kamu lewat FB, itu sudah cukup bagiku untuk menyayangimu. Walau kita berbeda… Aku memang anak dari seorang Muhammadiyah, tetapi orang tuaku tidak ada dalam diriku. Aku orang lain. Aku memanglah buah yang jatuh jauh dari pohonnya. Agamaku islam, bukan Muhammadiyah. Aku manusia yang diciptakan untuk menyembah Tuhan, bukan memuja sebuah bendera ataupun golongan apapun. Islam mengajariku untuk menghargai dan mencintai orang lain, lalu menyucikannya dalam ikatan pernikahan. Namun, aku tak mungkin menikahimu tanpa restu orang tuaku. Setidaknya kamu tahu apa yang aku maksudkan. Afwan Ya Habibi… ana asyif jiddan
Suara hening seketika. Tak sepatah kata pun terdengar dari handphone Jasmine, dan suara Candra tak lagi terdengar. Telvon telah terputus, dan seperti biasa, pembicaraan mereka berakhir ketika paket Ceesan telah habis.
***
kursi goyang tak henti bergerak. Asap menyembul dari mulutnya. Kumis tebal, jambang yang panjang. Kerutan dahi nampak begitu jelas. Rambutnya beruban nampak, tertutupi dengan kopyah putih yang kusam. Beberapa gigi sudah tanggal, tergantikan oleh besi dan logam. Setumpuk koran dari berbagai media berada di depannya. Diatas meja tua dari kayu jati. Ia jumput satu, Jakarta Post, satu-satunya koran yang menggunakan bahasa inggris. Di beranda ia mengulum setiap kata dalam fikirnya.
Sembari meminum kopi ia membaca koran itu dengan perlahan. Lembar demi lembar dan huruf demi huruf. Mata tua itu tak luput dari kacamata berwarna coklat dengan frame bundar, pemberian istrinya.
“Bapak, kok belum tidur? Sudah mala mini, tak bagus untuk kesehatan bapak.” Tiba-tiba Veve datang.
“Kamu to nduk, ia ini bapak lagi pengen baca baca dulu. Eman, koran yang bahasa inggris kan jarang kalian baca. Padahal bapak berlangganan koran ini biar kalian mau baca dan belajar bahasa inggris. Lagian, bapak juga pengen mengingat-ingat beberapa vocabulary, biar ndak lupa termakan usia. Oh iya, adimu dimana? Kok ndak keliatan.” Bertanya dengan logat medok.
“Oh, dia di kamarnya.”
laopo ning kamar ket mau? Paling yo telponan karo Candra. Anak kok ndak bisa diberitahu mana yang bener.”
“Sabar pak, mungkin sedang baca buku atau nulis. Sebentar Veve liatin di kamarnya.” Ia pun berlalu menuju kamar. Dan pak mukhlis melanjutkan membaca koran Jakarta Post yang berada kembali. Menjumputnya dengan tangan yang bergerak lamban karena usia senja.
“Bapak memang gampang naik darah nduk. Yang sabar ya.” Bu Mukhlis menegur Veve.
“Ia bunda, Veve tahu.” Berlalu ke kamar Jasmine.
Bagi Veve, Bapaknya adalah seorang sosok yang pantas dijadikan suri tauladan. Setiap gerak gerik dan tingkah lakunya selalu ia hayati. Kesederhanaan, rasa ingin tahu, dan sikap bersahajanya, selalu membuat setiap orang sungkan kepadanya. Tak lupa ia menularkan dalam diri anak-anaknya semua sikap tersebut. Namun, suatu waktu ia mendapati adik yang sangat ia sayangi terkena tampar karena Jasmine tak mau dijodohkan. Dan menolak untuk menikah dengan syarat-syrat yang telah diberikan oleh Bapaknya. Rasa benci pada diri Veve pun mulai tumbuh. Bapak macam apa itu.
Pintu kamar jasmine terbuka. Veve melihat Jasmine tergantung di jendela. Dengan jilbab putih yang masih ia kenakan. Wajah Jasmine pucat dengan lidah menjulur akibat kekurangan Oksigen. Tampak busa yang keluar dari mulutnya, beberapa mengotori daster putih yang dikirim lewat TIKI, dari Candra. Veve hanya berteriak histeris, menangis sekencang-kencangnya. Setiap sendi terbelenggu dalam tangis. Tak disangka ia melihat adik kesayangannya mati tergantung di jendela. Dengan jilbab hitam yang melilit pada lehernya.
“Bapaaaaaaaaaak…. Jasmine bapak… bapak…. Jasmine bapak….. bapak.. jasmine bapak…”
***
Fariq Shiddiq Tasaufy, Surabaya, 08 Mei 2012
Pada pikuk senja kota. Kuseduh pada cawan peraduan, tawa asa tangis tragis kehidupan.”Bapak, aku ingin panjat pohon kamboja.”,”Tunggu Bapak ingin tersenyum saat senja.Dan biarkan kuaduk sejenak nestapa.Kau masih menanti? Sini, duduklah barang sebentar.”,”Masih, Biarkan aku berdiri. Aku ingin bunga kamboja”, “Duduklah, Bapak belum menengok senja.Hujanpun baru menyapa, namun kamboja belum berbunga.”,”aku ingin pulang.”,”Sebentar, pak kusir masih tunggu kopi dari Emakmu, empat.”

Senin, 02 April 2012

Alzaimeir, Tomcat dan BBM yang Meresahkan

Cerpen saya terhenti, ide saya habis, fikiran saya melayang terbang dan tak kembali. Berbagai permasalahan ingin menjadi yang pertama untuk disolusikan. Semua berawal ketika saya memikirkan masa depan, calon istri, orang tua, dan mimpi saya. Segalanya bermula ketika saya harus memikirkan manakah yang lebih penting antara materi dan ilmu serta hati dan fisik. Dan semakin berat saja ketika semua mimpi dan harapan yang telah saya bangun, selalu terhalang oleh realita yang menjadi pijakan dari kesemuanya.

Kenyataanya, saya lebih sering berharap untuk menjadi orang yang beruntung. Berdo’a agar banyak harta tanpa menabung. Menghiba pekerjaan mapan tanpa usaha. Lebih ironis lagi, saya lebih suka menyalahkan realita, berfikir sempit hingga timbul cita-cita untuk jadi politikus mandaraguna. Kemana-mana berkuasa karena menyimpan banyak harta. Senggol kiri dapat Mercy, senggol kanan hujan uang,  dan senggol “mburi” rumahpun jadi.

Harapan menjadi orang beruntung itu datang saat saya mendengar teman saya nyeletuk saat ngopi; “Orang pintar itu selalu kalah dengan oarang beruntung bro!”. Sampai sekarang saya masih bertanya, apakah saya ini orang yang beruntung ataukah orang pintar? Apakah saya harus jadi politikus dulu, baru saya jadi orang yang beruntung? Atau jadi orang yang pintar agar jadi beruntung? Atau jadi orang yang beruntung agar bisa jadi politikus?

Semuanya nampak seperti sebuah masalah ketika anda harus memikirkannya secara bersamaan. Sedari awalnya, kita diharuskan untuk memilih prioritas yang tepat, untuk mendapatkan solusi yang sesuai tempat. Kesemua masalah yang saya sebutkan diatas tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan permasalahan bagsa yang sangatlah rumit, pelik—dikarenakan sikap oknum atau kelompok tertentu bersikap uncompromised dalam menyatakan tuntutan terhadap pemerintah. Ditambah lagi ketika para pejabat pemerintah lebih senang memikirkan besaran gaji, megah bangunan dan mobil dinas apa yang harus dinaiki, daripada harus mensolusikan tuntutan itu dengan bijaksana—proporsianal—fungsional.

Banyak kalangan berkata tentang kondisi negeri yang semakin tidak kondusif. Saya juga berpendapat sama akan hal itu. Betapa tidak, korupsi sudah tidak lagi pekerjaan kaum priyai yang duduk di senayan. Sudah merambah sampai ke para perangkat desa hingga guru-guru yang “digugu lan ditiru”, dan bisa jadi suatu saat menular pada para pemuka Agama (ulama) kita. Juga kenaikan harga BBM yang desertai dengan aksi demo beberapa pihak (buruh dan mahasiswa) yang memacetkan jalan. Belum lagi kebingungan masyrakat akan wabah hama Tomcat yang membuat sibuk beberapa rumah sakit ternama di Surabaya.

Beberapa kalangan masyrakat kota berpendapat bahwa isu hama tersebut sengaja dimunculkan sebagai “pengalih” semua isu besar. Untungnya, isu “Tomcat” tersebut masih kalah bersaing dengan kasus penimbunan BBM yang dilakukan secara besar-besaran oleh sejumlah orang-orang tak bertanggungjawab. Beribu liter BBM mereka kumpulkan untuk di jual kembali ketika harga BBM telah secara “terpaksa” dinaikkan. “Tomcat” hampir saja menjadi super hero yang memihak kepada pemerintah, dan semakin membuat sengsara kaum petani yang hilir mudik kesawah, yang berada di perkotaan, karena terkena toksin-nya yang mengakibatkan iritasasi pada kulit. Dikatakan bahwa seseorang yang terkena cairan tersebut akhirnya akan merasakan panas yang sangat hebat pada kulit.

Coba anda bayangkan betapa depresinya masyarakat kota Surabaya akhir-akhir ini, jika harus memikirkan banyak hal dalam sebuah momentum yang singkat. Belum selesai mengurusi “Tomcat”, rakyat sudah disibukkan dengan isu kenaikan BBM yang sangat meresahkan. Mereka harus merevisi anggaran rumah tangga, menimbang besaran anggaran belanja dan akomodasi—transportasi serta uang kesehatan—pendidikan. Ditambah lagi mereka harus menahan rasa benci mereka yang memuncak terhadap para koruptor yang “mbulet” untuk mengakui kesalahan dan kebohongan yang mereka perbuat.

Beberapa teman saya menanyakan, “Apa ya yang salah dalam negeri ini? Siapa ya yang patut disalahkan terhadap semua semua masalah pelik yang melanda bangsa ini?” jawab saya adalah, “yang salah adalah manusianya. Bukan sistem ataupun realita yang ada.” Bukan pula merupakan kesalahan segala ideologi yang berkembang serta transformasi politik, budaya dan ekonomi yang mana selalu dijadikan kambing hitam oleh membuat masyarakat, mengembik—gelagapan menyesuaikan diri terhadapnya.

Kesalahan terbesar adalah manusia dan masyarakat yang tidak menyadari bahwa mereka bukanlah hewan yang memiliki struktur secara biologis, yang diciptakan sesuai keadaan lingkungan yang ada. Sehingga sejak lahir mereka sudah mengerti cara berdiri—berjalan—mencari makan. Karena akal tak dianugerahkan pada mereka. Karena hati tidak terpatri pada diri mereka. Berbeda dengan manusia yang memiliki akal dan hati hingga akhirnya mereka mampu “berbudi”. Manusia memerlukan sebuah proses penciptaan “sesuatu” agar mampu bertahan hidup serta menyesuaikan diri dengan alam. Proses inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Bisa dibayangkan kan kalau hewan memiliki akal, hati dan mampu menciptakan? Bisa-bisa mereka sudah ngopi bareng kita di pagi hari.

Tak urung, setiap manusia hendaknya melakukan proses penciptaan (kreativitas) agar mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang ia diami. Terlebih lagi mereka memiliki hati yang menjadi antidote dikala ego atau akal seorang manusia bertindak irasional ataupun tak bersesuaian dengan norma moral yang berlaku.

Sebagai manusia, tidak merupakan sebuah kesalahan jika mereka kembali mengingat peran mereka dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Pun, sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi manusia untuk kembali menilik hati mereka, sebagai koridor utama untuk membuat kebijakan yang relevan dengan kondisi sosial yang serba “BEDA”. Manusia memanglah memiliki kemampuan untuk mencipta, segala hal yang berwujud (materi) dan segala hal verbal (yang akhirnya dikonversi menjadi hukum, norma, serta kebijakan-kebijakan lain untuk mengatur masyarakat agar tercipta kehidupan yang beradab.) Semua elemen bangsa, baik pejabat dan masyarakat adalah manusia. Memiliki kebebasan dalam menentukan antara salah-benar, baik-buruk, antara netral-memihak, dan antara sama-tidak sama. Namun pastilah manusia memiliki titik tengah dalam masalah tersebut. Bukan merupakan sebuah kenetralan, atau tak mau acuh, melainkan sebuah kebijaksanaan dan keadilan.

Problem kenaikan BBM dan Korupsi bukanlah masalah yang sepele. Dari kedua hal tersebut saja masyarakat sekaligus pemerintah terkena dampaknya. Kerugian korupsi bapak Nazarrudin saja sudah milyaran rupiah. Belum lagi kasus Malinda Dee dan Gayus Tambunan. Belum lagi kasus kasus yang lain yang belum tuntas. Diantaranya kasus Bank Century dan Bank Mega.

Belum kelar menangani kasus tersebut, pemerintah dan masyarakat harus kembali berkutat dengan kenaikan harga BBM yang dirasa perlu untuk menyelamatkan perekonomian bangsa. Alasan yang dilontarkan tetaplah sama “Menyesuaikan harga minyak dunia.” Apapun alasannya, masyarakat tetaplah menyangsikan hal tersebut. Dan lagi-lagi pemerintah kembali mencanangkan BLT (Bantuan Lanhsung Tunai) atau sibsidi langsung, yang dialamatkan kepada masyarakat kurang mampu. Namun, kenyataan bahwa apapun alasan yang digunakan untuk memaksakan kenaikan harga BBM, dan sebesar apapun subsidi yang akan diberikan, masyarakat tetaplah tidak sependapat karena khawatir kenaikan BBM akan berdampak besar pada kenaikan harga barang kebutuhan yang lain, seperti obat-obatan serta bahan pokok yang lain.

Dari sini, alih-alih menerima suara rakyat, yang tersalurkan melalui aksi demo yang dilakukan oleh beberapa elemen masyarakat, pemerintah malah melakukan reaksi dengan menyiapkan berpleton-pleton aparat kepolisian juga tentara pada titik-tik yang rawan. Kembali, alasan mereka tetap sama dan sudah udzur seperti yang dilakukan almarhum Presiden Soeharto pada zaman orde baru yaitu “Menjaga stabilitas negara dari MAKAR”. Jika Bapak SBY (Presiden yang terhormat) pernah berkata bahwa aksi premanisme adalah ekses dari reformasi dan kebebasan yang tak bertepi, munkin perlu ditambahkan pula bahwa aksi anarkisme dan aksi demo adalah ekses dari kebijakan pemerintah yang tak berdaulat untuk rakyat, juga ekses dari penyakit “alzaimeire” yang semakin merakyat.

Masyarakat dan pejabat mulai lupa cara berdemokrasi, sudah lupa dalam mengamalkan Pancasila, sudah lupa dalam ber-Bhineka Tunggal Ika, dan yang lebih parah lagi kita sebagai manusia telah melupakan etika berbangsa dalam mengahadapi berbagai masalah yang muncul. Lalu bagaimana sebuah kebijakan dapat dikatakan bijaksana, adil dan berprioritas jika staat filosofi, etika berbangsa beserta semboyan bangsa sudah dilupakan? Penyakit alzaimeir mungkin sudah mewabah seperti Tomcat sehingga mengakibatkan “kulit sosial” dalam negeri yang semakin memanas. Suhu tubuh politik semakin tidak stabil dan akhirnya harus dilarikan ke Rumah Sakit Demo.

Secara lahiriah para pejabat dan masyarakat adalah manusia yang memiliki akal sehat. Memeiliki hati untuk dijadikan tepi dalam pembuatan kebijakan ataupun penyampaian aspirasi. Sebagai pemegang amanah masyarakat, seharusnya para pejabat menggunakan etika secara bijaksana agar mampu menciptakan keputusan sesuai dangan prioritas—tercipta keadilan yang semakin merata pada semua elemen masyarakat. Tentunya masyarakat juga harus berperan kooperatif dalam menyampaikan aspirasi, tanpa melakukan perusakan dan pembakaran. Agar masyarakat lain yang tidak terlibat dalam aksi demo merasa aman dan nyaman melakukan aktivitas sehari-hari.

“Hanya karena kita memiliki kebebasan, kita dapat dibebani kewajiban moral dan tanggung jawab.” (Frans Magnis-Suseno).

Fariq Shiddiq Tasaufy
Surabaya, 27 Maret 2012

Senin, 12 Maret 2012

Sebuah Bayang; Cantiknya Ia

Sore itu, saat mereka duduk melingkar. Bercanda dan berbaur dalam hangatnya senja kota Surabaya. Sedikit polusi dari mobil mewah tidak menjadi masalah. Sedikit bau tak sedap dari saluran pembuangan kamar mandi, tidaklah cukup untuk sekedar mengurangi rindu. Di atas kursi kecil ia sempatkan mengupil, sembari memegang kartu dengan mata mecicil. Setidaknya itulah yang ia lakukan, disaat warung kopi menjadi satu-satunya tempat ramah baginya.

“Ah… Ternyata masih ada tempat seperti ini ya.”  Tak lagi nampak senyum kecut di wajahnya.

***

Lima jam yang lalu aku masih berada di kelas, menikmati perkuliahan yang sedang berlangsung. Ya, dosen itu sangat cantik, lesung pipinya, amboy… sangat sedap untuk dipandang. Matanya yang sayu tiada henti tuk menggodaku. Tak ada satupun kejelekan dalam tubuh dan tingkah polahnya. Bagaikan memandang venus dimalam hari. Bulan mungkin akan cemburu saat tatapan mataku tertuju padanya. Bagai tikus merindukan venus celotehku. Ingin menggapai namun tangan tak sampai. Kerlingan mataku tak henti mengamati gerak bibirnya yang seksi. Bahkan, tak sedikitpun aku ingin memejamkan mata. Ah, sayang aku tak mampu melihat mulusnya betis dan lehernya. Andai saja kerudung itu dibuka, dan rok panjang itu bisa lebih pendek, mungkin semesta akan memalingkan wajah kepadanya.

“Tuhan, berilah aku kesempatan.” Gumamku dalam hati.
“Ringo, ada yang ingin kau tanyakan?” Suara lembutnya membuatku terbangun dari lamunan indah.
“Ti…tidak bu…” Sedikit gagap.
“Lalu kenapa kau menatapku seperti itu?” Aku terdiam.
“Anu bu… ehm…” Belum sempat melanjutkan, dosen tersebut sudah menimpali.
“Ok, jika tidak ada pertanyaan, kelas bisa bubar. Selamat berakhir pekan untuk kalian semua.”
Senyum yang mengembang saat kelas berakhir semakin mempesona diriku. Tak tahan rasanya aku ingin menciumi bibirnya. Sayang, Ia bergegas meninggalkan kelas, begitu pula teman-temanku yang lain. Aku masih terdiam di atas bangku, menghirup aroma parfumnya yang masih tertinggal dalam ruangan. Kuhirup sangat dalam, agar tersimpan dalam ingatanku. Kuhafalkan dengan seksama agar suatu saat jika berjumpa, aku bisa langsung mengenalinya. Dan mungkin jika ada aroma parfum yang sama, aku bisa mengingatnya. Akupun bergegas meninggalkan ruangan. Kususuri aroma tersebut, semakin kuat, semakin dekat aku padanya.

“Hem… Mengapa kau begitu cantik bu?!” Gumamku dalam hati, saat mulai nampak tubuhnya yang semampai. Rok panjang yang ia kenakan seakan memperlambat laju kakinya.

“Andai kau memakai yang lebih pendek bu.” Harapku.

Bagiku kerudung putih itu sangat menggangu keelokannya, menutup rambut panjangnya yang terkuncir di belakang. Andai dibiarkan terurai, mungkin ia akan nampak lebih seksi, dan mungkin akan nampak lehernya yang mulus dan putih. Ia pun lenyap diantara kerumunan mahasiswa yang sedang asik bercengkrama di lorong kelas.

Hey girls, ayok ngopi. Di warung biasanya. Nanti jam tiga sore.” Sebuah pesan muncul di ponselku. Akupun bergegas menuju kos untuk merebahkan diri sambil menunggu jam tiga tiba.

Warung Kopi, Surabaya, 11 Maret 2012

Jenakanya Pemuda Bangsa

Dalam artikel-artikel sebelumnya, saya selalu menekankan pentingnya nilai moral dalam segala aspek sosial budaya serta perkembangannya. Dalam menghadapai tantangan zaman. Mengapa? Undur tersebut sangat berpengaruh pembentukan kualitas individu maupun kelompok. Nilai moral inilah yang akan mempengaruhi tujuan ‘idea’ setiap individu dalam tekanan aktualisasi diri terhadap kenyataan sosial bangsa Indonesia, yang dewasa ini sangat ini sedang demam demokrasi.

Suatu kali, saya berada di sebuah forum kecil, yang sedang membahas tentang korupsi dan premanisme FPI di monas. Bukan merupakan sebuah forum tersohor seperti Indonesian Lawyers Club, dengan kritik pedasnya, pula bukan sebuah forum lucu seperti Opera Van Java yang sedang booming dengan gombalan-romantisnya.

Dalam diskusi itu semua pihak selalu menggebu-gebu dalam menyatakan pendapatnya, misal; “Ini negara demokrasi, saya boleh berkata bebas dan menyampaikan argumen saya!”. Ada pula yang berkata, “Nggak usah emosi sob, ini negara bebas, ini negara demokrasi!”, yang paling pedas dan masih teringat di kepala serta membekas di hati, ”Ini negara demokrasi yang berlandas pada hukum, jadi jangan kau masukkan pemikiran islam dalam forum ini!”. Apakah seperti ini demokrasi?

Tersentak sekaligus sedih waktu itu. Semakin malu saya ketika dalam akhir forum tersebut mereka tidak mencapai satupun mufakat. Bagai mendewakan sesuatu tanpa mengetahui apa sebenarnya yang didewakan. Apakah benar, apakah dengan sadar mendewakannya, atau dengan penuh kesadaran meyakini dewa itu dari mulut orang lain, yang belum tentu dapat dibuktikan kebenarannya?

Saat akhir forum saya pun bertanya dengan tegas, “Teman-teman, anda tahu apa demokrasi itu?”. Krik… krik… krik… krik... suara jangkrik serasa memenuhi ruangan itu ketika mereka hanya terdiam bisu. Sejurus kemudian saya bertanya lagi, “dahulu mana kalian mengerti demokrasi, agama, atau pancasila?” krog… krog… krog… krog... dan suara jangkrikpun tergantikan oleh merdunya suara kodok. Anda tahu apa yang saya katakan kepada mereka? Kurang lebihnya seperti ini, “lha sampeyan kiro aku ngerti demokrasi? wong aku wae gak dong karo sistem iku, nek sampeyan gak ngerti lapo kok nggedabrus? Koyok tong mlompong ae cak!”(eyaaaa… logat jawanya keluar deeeeh…o_O’>…)

Disini saya tidak ingin menjelaskan makna demokrasi ataupun nilai—hukum yang terkandung di dalamnya. Hanya saja penekanan lebih ditujukan terhadapa sikap teman-teman saya yang sangatlah kelewatan. Sangat irelevan bagi saya ketika anda berkoar tentang demokrasi, ternyata anda tidak memahami segala sesuatu yang diemban dan dicita-citakan olehnya, bagaikan memakan buah simalakama bukan? Dalam peristiwa itu, sangat nampak sekali ‘instant stereotype’ pemuda bangsa, padahal mereka adalah tonggak estafet perubahan bangsa.

Entah, rasa malu atau gengsi dan sekedar mengikuti arus biar trendi. Para mahasiswa, juga pemuda, seperti termakan oleh iklan “junkfood”, dan akhirnya membelinya di restoran kelas “Mc Dy” atau KFC, tanpa mengetahui bagaimana pengolahan makanan serta bahan-bahan yang digunakan di dalam proses pembuatannya. Para mahasiswa seperti melihat setangki air segar ditengah gurun sahara. Hingga mereka tidak sadar bahwa air tersebut hanya fatamorgana (cie kayak lagu aja boooook….)

Pemahaman pemuda dengan cara seperti itu, cenderung mengakibatkan terciptanya iklim demokrasi praktis di kemudian hari, yang bisa mengakibatkan tidak sehatnya iklim politik dalam negeri. Apakah seperti itu saharusnya seorang pemuda? Sangat wajar ketika seorang pemuda seperti saya, (emang muda? Wajah lo itu boros Fariiiiiiiq!) menanyakan bagaimana seharusnya seorang pemuda itu? Apakah bekal yang harus dipersiapkan dalam mengaktualisasikan diri?

Sikap meniru memanglah menjadi fitroh kita sebagai manusia. Sedari kecil kita meniru gerakan Ibu ataupun Ayah kita setiap harinya. Pernah suatu ketika saya yang masih belia dan imut-imut. Meminjam sepatu Abi untuk pergi ke kampus, dan sekonyong-konyong langsung jalan kaki menuju jalan raya. (mau ngapain riq jadi asdos?). Coba anda tebak berapa umur saya waktu itu? baru sekitar empat tahun. Bagaimana dengan anda? Apakah yang anda tirukan ketika kecil? Mungkin ketika ayah kita makan tangan kiri, minum sambil berdiri, dan mandi sambil…??? kita pasti akan menirunya juga, iya bukan? Tetapi, apakah anda yang mahasiswa akan menerapkan cara yang sama ketika anda dihadapkan pada sesuatu hal yang baru? Apakah anda yang sudah dewasa dan penuh kharisma, akan meniru begitu saja apa yang ada di depan anda? (anak kecil dong….^_^)

Ada yang mau ikut saya menjawab dengan lantang untuk berkata “Tidak”? kata ‘Tidak’ dalam masalah ini lebih ditekankan pada instant stereotype yang telah menjadi kebiasaan para mahasiswa. sikap inilah yang menjadikan kita seperti anak kecil, hanya meniru semua laku sosial yang ada dihadapan kita. Diawali dari fashion, life style, music, art, dan literary work, akhirnya kebiasaan meniru secara instan, dapat dikatakan sebagai faktor terbesar dalam terbentuknya pola hidup konsumerisme yang berlebihan pada para mahasiswa serta masyarakat pada umumnya—terputusnya alur kreativitas atau produktivitas mahasiswa, dan akhirnya berdampak sampai pada kancah politik juga (bagian awal artikel ini).
Karena itu, tidak sepatutnya kita menyalahkan objek yang ditiru oleh para pemuda atau mahasiswa, melainkan moralitas kitalah yang perlu disalahkan. Moral (kebiasaan yang melekat) instant stereotype memang perlu dihilangkan agar proses asimilasi dan aktualisasi pada segala hal yang baru dapat berjalan dengan seimbang, dengan batasan norma yang kita memiliki sebagai manusia berbudaya. “Dimana ada keyakinan, kekuatan, kelembutan, dan keseimbangan yang menyatu, maka disana ada keindahan yang tak terkatakan oleh kata-kata, dan semua itu hanya bisa dorasakan oleh batin yang bijak.” (Y.M. Bhante Pradipa)

(Sekedar bacaan sebagai teman saat minum kopi; Perlu diingat lagi, meniru itu bukan atau tidak selamanya memahami. Qabilun Li al-taghyir wa al-niqas wa’ al-tajdid ^_^)

Secangkir Kopi; Surat dari Sahabat

Secangkir kopi, saat pena dikebiri.
pun, asap jalan bersahabat penat.
Secangkir kopi,
Saat tinta tak menyembul.
asap jalan pekat mengepul.
Manusia, tak hina bergumul.
Secangkir kopi,
tika kata tak bertaji.
Sejak sajak tak beraji, tersurat tiada sirat.
Secangkir kopi;

"Mimpiku pupus dan aus."

Maaf, sedikit saja,
Keping itu tidaklah hina.

Minggu, 04 Maret 2012

Jasmine; Hingga Lanjut Usia

Tiada hari, serumpun melati bersinggung dengan senyum pagi.
Kelopak mata bercumbu dengan kerling sari.
Putih, bahkan madu dalam diriku,
Hanya pudarkan suci makhkotamu.
Manis, semyummu iris hati setiap lapis.
Cantik, kau berseri kala senja.
Saat remang kota sayup-sayup dekapku manja.
Wangi, harummu kupuja, kuhiba saat aku lanjut usia.
Ah, jasmine... Setangkaipun aku tak ingin melupakanmu.

Ibuku; Inilah Nasibmu

Itu, saat dimana kau basuh rambutku.
Dengan segenap keikhlasanmu.
Jemari yang halus, begitu lunglai nan kurus.
Itu, saat kau papah aku pada pintu.
Dengan tegar kau getirkan senyummu.
Merah, bibir yang indah, tak ku lupa dan pula jengah.
Itu, saat kau kenakan baju padaku.
Dengan miris kau kembangkan tangis, dengan manis kau tumis habis.
Mendera, mengucur dari balik dapur.
Itu, saat kau ranum seonggok tinja.
Dengan mesra kau timang ia.

Itu, saat ibu menyayangiku dengan segenap pilu dan sendu masa kecilku.

"Bahkan dunia tak terhingga saat menimbangnya."

Desaku; Ia Yang Kuhiba

Itu, saat kukayuh sepeda tua, pagi buta,
saat ilmu sangat jarang di desa.
Hati riang bukan kepalang, lintasi ladang juga pamatang.
Sepetak padi pun berdendang,hiburku dengan lucu.
Dua carik, kukenakan dengan gagah.
Dwi warna berpeluh nan basah.
Sudah renta, bapak, hanya wariskan itu. Sudah kusam, ibu, jahitkan itu.

"Sudahlah, ia dikirim ke kota."

Itu, saat ilmu tak jua tiba.
Meja kursi tiba-tiba kosong.
Siswa-siswa melongok ompong.
Aku pulang, Aku jual;
Sudah renta, bapak, hanya wariskan itu.
Aku sulut arang, Aku bakar;
Sudah kusam, ibu, jahitkan itu.

Rabu, 29 Februari 2012

Ibu Daya; Sebuah Salam Dari Pecinta Kop

“Aksi-aksi premanisme yang marak belakangan ini merupakan ekses dan bentuk penyimpangan dalam penggunaan kebebasan yang kelewat batas.” (SBY, jawa Pos, Sabtu 25 Februari 2012)

Artikel ini tidak mencoba untuk sekedar mengikti isu perkembangan budaya—politik—keamanan yang sedang terjadi belakangan ini, yang diakibatkan oleh kasus premanisme yang melanda ibu kota. Bukan pula sebuah ide yang berawal dari curhat bapak presiden lita yang kalem—dimuat dijawapos seperti yang tersebut di atas. artikel ini sengaja dibuat untuk memfermentasi segala pandangan teman-teman saya “secangkrukan” dalam menghadapi kenrosotan moral serta nilai-budaya awal bangsa kita akibat dampak globalisasi,yang mana diawali dengan umbangnya rezim cendana pada tahun 1998 (peristiwa tersebut kini lebih popular dengan nama “reformasi”), serta mendesaknya aktualisasi budaya segera harus dilakukan oleh semua elemen masyarakat. Bukan apa-apa, hanya saja akan sangat menjadi beban moral bagi saya jika sebuah gagasan tidak pernah tersampaikan, hanya dibuang tanpa penampungan. Dan akhirnya gagasan hanya jadi asongan di pinggir jalan…^_^

***

Segala bentuk kebudayaan pastilah membawa paket tradisi yang bermacam-macam bentuk dan sifatnya. Menghasilkan sesuatu yang fundamental maupun substansial—dapat dicerna secara rasional maupun irasional. Menghasilkan bermacam bentuk hukum serta norma yang beragam di dalam masyarakat. Namun, terkadang kita lupa dan atau benar-benar ingin melupakan unsur pembentuk dari budaya, yang  mencerminkan sifat budaya itu sendiri—fleksibel, dapat diubah dan diperbaharui menurut kebutuhan kondisi yang aktual, tanpa mengurangi atau merubah hal yang paling mendasar dari budaya itu sendiri. “Usaha manusia untuk mempertahankan kehidupannya mengakibatkan terbentuknya kebudayaan.” (Malinowski, dalam Susanto, 1983)

Kebutuhan akan aktualisasi budaya memang tidak dapat dihindarkan. Seperti sebuah akhlaq yang selalu berubah saat masa remaja, dewasa hingga tua, yang selalu berproses untuk mendapatkan sebuah akhlaq yang mantap. Sebuah analogi yang simpel dan tidak sepadan memang. Namun dalam hemat penulis, persamaan antara akhlaq dan budaya adalah sifatnya yang fleksibel namun tetap fundamental, yang mana sebuah budaya memiliki fitroh awal sebagai wadah pembentukan moral bangsa beserta pemudanya.

Dewasa ini, proses budaya dalam mengaktulisasikan diri terkesan melupakan bentuk awal atau orisinalitas budaya bangsa. Hal ini dimungkinkan karena adanya budaya dari bangsa lain yang lebih maju, atau dapat dikatakan ‘aktual’, yang akhirnya merubah bentuk dari budaya orisinil bangsa kita secara berkala. Sedangkan di saat yang hampir bersamaan, proses aktualisasi juga terkesan lambat, yang dalam hemat saya disebabkan oleh para pelaku budaya (masyrakat), kurang peka terhadap pentingnya aktualisasi budaya pada era yang “serba bebas” ini.

Dalam keterlambatan dan kebingungan dalam mengaktualkan diri, para pelaku budaya cenderung melakukan ‘copy paste’ terhadap kebudayaan lain, hingga timbul ‘instant-stereotype’ pada generasi muda bangsa—langsung maupun tidak langsung, tanpa memahami nilai-nilai yang terkandung pada budaya yang telah terasimilasi dalam kebiasaan sehari-hari—berujung pada lahirnya budaya baru, yang belum dapat dipastikan dampaknya dalam khasanah peradaban bangsa.

Peran budaya sebagai wadah pembentuk moral bangsa terlihat dari usur-unsur yang membangun kebudayaan itu sendiri; sestem religi, sistem dan organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencaharian, dan sistem teknologi. (Koentjaraningrat, 1987, p. 2) Dalam perannya terhadap pembangunan bangsa, aktualisasi budaya dapat dikatakan sebagai usaha untuk menciptakan kondisi hidup manusia yang lebih baik, serasi, secar fisik maupun lingkungan sosial budaya. (Mustopo, 1989, p. 13) Melihat unsur pembentuk budaya dan tujuan aktualisasinya, sebuah budaya pastilah memiliki ide awal pemikiran yang disepakati oleh sekelompok orang dengan mempertimbangkan sistem nilai-budaya—telah menjadi pedoman tertinggi dalam hidup. Sistem nilai ini bersumber pada agama, norma, beserta adat istiadat serta hukum suatu masyarakat yang berlaku (diakui) secara mayoritas—veto. Pembentukan kebudayaan selalu menyertakan nilai obyektif, yang tanpa dijelaskan, dianutdan dijalankan oleh anggota kelompok. Karena dalam masa lampau  pernah ada, dan berujung pada adanya norma. Di dalamnya norma menyertakan aspek praksis dan kejiwaan didalam menjalankan kewenangannya.” (Bierens, Grondslagen, p. 166)

Dalam bangsa ‘plural’, dengan kerumitan akan kemajemukannya. Para pelaku budaya pastilah menemukan ragam kesulitan  untuk menentukan ‘idea’ yang tepat untuk dijadikan sebagai stimulus awal, untuk menciptakan sistem ‘immune’ yang kuat. Mengapa? Di tengah semangat modernisme, menjamurnya ideologi baru serta penghargaan terhadap pluralisrme (yang kenyataanya primordial), keharusan untuk membentuk sebuah sistem ‘immune’ yang fleksibel sekaligus tegas tidaklah salah dan tidaklah pantas untuk diperdebatkan. Kehidupan politik dan udaya sesungguhnya memang bergerak dalam satu kerangkaa konseptual yang diberikan oleh agama, filsafat atau ideology.” (Moerdiono. 1993)

Lantas apakah ideologi ataupun kerangka dasar ‘immune’ kita? Di sisni penulis menyadari, bahwa dalam kenyataan politik dan budaya yang ada, kita lebih menggunakan ideologi barat yang masuk bersamaan dengan arus globalisasi. Bukankah kelima sila dalam pancasila itu adalah ide awal dari bangsa ini? bukankah kelima hal itu adalah semangat serta tujuan awal bangsa ini? (sebagai catatan, kelima sila yang dirumuskan oleh perwakilan-perwakilan masyarakat itu telah disahkan sebagai pintu awal untuk merumuskan UUD negara). Lantas mengapa para pelaku budaya masih bingung mennetukan sistem immune yang tepat terhadap isu globalisasi—modernisme dan pluralism—primordial yang sedang melanda bangsa?

Berkembangnya ilmu pengetahuan yang begitu pesat memang memunculkan berbagai macam ideologi yang baru. Dapat dikatakan dapat memicu rasa ketertarikan para pelaku budaya untuk mempelajarinya. Begitu pula kecenderungan untuk mengaplikasikan ideologi tersebut memang tidak dapat disanksikan lagi. Karena sebuah ide adalah kepemilikan dari individu dan atau kelompok. Setiap individu dan kelompok inilah yang selanjutnya menjadi para pelaku budaya. Sehingga dapat dimungkinkan, ide awal bangsa ini (pancasila) sedikit terkontaminasi dengan semangat lain yang dihasilkan dari proses asimilasi terhadap ideologi yang baru mereka pelajari, dan lebih ditakutkan lagi akan digantikan dengan ideologi yang baru. Pengaruh ide awal dalam pembentukan moral budaya beserta proses aktulisasnya sangatlah nyata. Perlu diingat kembali bahwa sebenarnya ‘idea’ adalah wujud awal dari budaya. (Koentjaraningrat, 1987, P. 5)

Namun seyogyanya ide-ide yang telah tertampung. Harus melalui proses justifikasi dan jurisdiksi yang tegas, berdasar pada cita-cita bangsa kita. Tidak kalah penting, mengingat setiap individu (pelaku budaya) memiliki peran dalam proses aktualisasi, perbdaan dan keberagaman dalam interest individu, tujuan individu mauoun kelompok, ide yang di gagas demi kelangsungan aktualisasi budaya memang tidak dapat dihindarkan. Oleh sebab itu follow-up lembaga dan atau institusi sangat diperlukan, diharapakan dalam mendanpinginya tidak mengurangi kreativitas pelaku budaya.

Mangapa? Hal ini didasarkan pada kekhawatiran terhadap melencengnya proses consensus ide dari etika budaya bangsa, serta arus globalisasi yang cenderung bebas—materialis. Yang mampu mempengaruhi unsure-unsur awal pembentuk budaya bangsa Indonesia. “Globalisasi cenderung menekankan materialism sehingga mneimbulkan reaksi, mendorong arus yang ingin menginterpretasi dan mengaktualisasi kaidah moral agama untuk menjadi lebih relevan pada perubahan. Yang mana mengakibatkan pertumbuhan ekonomi, budaya—mengancam cirikahs budaya nasional.” (Emil Salim, 1993)
Proses aktualisasi budaya memang tak seharusnya bergeser jauh dari cita-cita awal bangsa (merujuk pada pancasila). Pada sila ke-2 tersebut tercantum kata “beradab” yang dalam artinya memiliki tujuan membentuk masyrakat bermoral, berteknologi, atau dalam arti inggrisnya “civilized”, memiliki kemajuan dalam segala aspek kehidupan. Namun, kita harus meletakkan landasan moral, etik dan spiritual yang kokoh bagi bangsa. Dengan kata lain, baik agama maupun pancasila diakui sebagai sumber moral setara dan saling menunjang bagi kehidupan berbangsa.” (Moerdiono, 1993)

Ketaatan pada prinsip moral dan agama, kesetiakawanan sosial,kreativitas—produktivitas, rasionalitas serta kemampuan untuk mandiri adalah hal-hal utama dala membangun kualitas masyarakat. Bapak Moerdiono juga pernah berkata bahwa, dimensi kemanusiaan memang tepat jika dikaitkan dengan kepercayaan Tuhan. Dengan demikian, maka kemanusiaan lita itu bukan sekedar merupakan reduksi logis dari pemikiran humanism, yang bisa bersifat sangat sekuler, tetapi mempunyai landasan religi yang lebih luhur. Serta merupakan kategori religious dan falsafati yang lebih abadi.

Sebuah budaya membutuhkan sebuah nila atu idei yang fundamental untuk beraktualisasi terhadap kondisi global yang ada—berorientasi pada materialism yang praktis. Arus global yang serba bebas ini dikhawatirkan menjadi sandungan dalam proses aktualisasi budaya bangsa, untuk tetap fleksibel namun tetap sesuai dengan cita-cita bangsa. Menumbuhkan keadilan sosial dan yang mencakup segala hak dan kewajiban. Tetap mempertahankan aspek religi dan pancasila, memasukkan segala nilai yang terkandung di dalamnya pada norma, adat istiadat, serta hukum yang berlaku di dalam masyrakat.

Aktualisasi budaya tidaklah berjalan mulus jika semua elemen tidak berperan secara aktif maupun pasif dalam menentukan arah perkembangannya (disamping harus mempertimbangkan perbedaan serta kemajemukan yang ada). Bersikap tegas dalam menyikapi segala perbedaan itu untuk selanjutnya diakomodasi menjadi bentuk ‘manifesto kebudayaan’ yang kaya dan bermartabat. Keberadaan seluruh elemen masyrakat bertujuan agar jalur koordinasi antar lembaga—institusi dapat terjaga dengan tegas. Namun perlu diingat bahwa setiap elemen memiliki hak dan kewajiban yang adil—proporsional, agar tidak melebihi batas konstitusi maupun legislasi yang mengikat.

Untuk mewujudkan usaha tersebut. keberadaan lembaga—institusi, agama maupun pemerintah,swasta dan negeri, patulah mampu menciptakan suasan sosial yang kondusif—akomodatif, agar semua elemen mampu terangsang untuk menuangkan ide ataupun sekedar kritik sebagai gagasan awal terciptanya hukum yang adil untuk masyarakat umum, dan tidak melakukan tebang pilih dalam mengiringi langkah aktualisasi budaya. Pembentukan kelompok ataupun asosiasi ini merupakan akibat dari interaksi sosial. Dengan adanya sistem nilai yang menentukan laju interkasi di tengah arus globalisasi. Dimana dengan sistem nilai tersebut, lembaga—institusi—asosiasi mampu melakukan peningkatan kualitas beserta pembinaan moral para pelaku budaya dalam proses aktualisasi.  Penerusan ide-ide serta pengalaman generasi satu kepada generasi berikutnya. Dijalankan melalui metode dan mekanisme pendidikan tertentu, sehingga terbentuk lembaga dan pelembagaan, yang mampu membentuk ketertiban serta hukum dan kaidah-kaidah demi kelanjutan existensi. Kebudayaan tidak terlepas dari kehidupan kelompok, kita harus menyadari bahwa individu hidup dalam kebudayaan; dan budaya hidup dari individu. (Malinowski, 1960, p.37)

Setiapa individu dan kelompok tersebut pastilah membawa nilai moral masing-masing. Pada setiap interaksinya di dalam norma dan hukum yang ada, mereka akan saling mempengaruhi. Setiap pengaruh tersebut pastilah terasimilasikan dalam tubuh masing-masing kelompok. Pada akhirnya setiap kelompok membuat norma kelompok yang sesuai dengan agama dan pancasila yang telah menjadi pedoman kehidupan berbangsa. Menjadikan kedua hal tersebut sebagai morality control pada setiap tindakan anggota, terhadap penyampaian ide-ide yang menunjang proses aktulisasi budayai terhadap isu globalosasi dan pluralisme yang ada. Dengan kualitas moral yang baik, pastilah nilai-budaya awal bangsa ini tetap terjaga, di tengah tuntutan aktualisasi budaya yang menghujam.

(Hanya sedikit yang bisa saya tulis di sini, pastilah salah adalah sepenuhnya dari saya. Saran teman-teman masih saya butuhkan, sebagai bahan pertimbangan untuk artikel saya selanjutnya. Jangan lelah untuk mengkritik, karena kritik terhadap kesalahan adalah awal dari kebenaran. Dan siapapun yang mentupinya adalah musuh dari orang-orang yang jujur…ngomong apa ya aku ini…. pokonya salam budaya deeeeeh. Qabilun Li al-taghyir wa al-niqas wa’ al-tajdid ...^_^…)

Minggu, 19 Februari 2012

Ngopi “Ngolah Pikir”


Tak sengaja, semalam kuhabisakan waktu untuk begadang di warung kopi. Tak jauh dari kampus, kira-kira hanya beberapa meter ke arah timur. Dengan beberapa teman, aku duduk melingkar, dengan meja di tengah sebagai pusat dan saksi bisu perbincangan kami. Ya, tak ada angin, tak ada pula petir yang menyambar, ketegangan serta rasa ingin tahu, berkecamuk di dalam hati. Ternyata tanpa sadar,  topik pembicaraan kami telah mengarah pada bagaimana “nilai”, “norma” dan “moral” saling memiliki relativitas dalam hubungannya di dalam tatanan masyarakat.

Ya, pada malam itu kami (Aku, Arif, Rahmat, dan Taufiq) bersitegang tentang bagaimana sebuah nilai, norma dan moral saling memiliki keterkaitan dalam membentuk satu tatanan sosial. Walaupun kami bukanlah mahasiswa sosiologi ataupun pengamat soial yang rela menghabiskan waktu menganalisis perunahan kondisi sosial, ataupun pergeseran ketiga hal yang tersebut di dalam masyarakat.

“lha gimana lagi to kang, wong saya saja masih bingung bagaimana membedakan “nilai” dan “norma” kok, wah… sampean salah menanyakan ini ke aku!”, celetuk Rahmat pada Taufiq.

Sebenarnya poin mendasar diskusi malam itu bukanlah perbedaan antra ketiganya. Melainkan keterkaitan antara ketiga hal sebut di dalam satu keadaan sosial. Melalui diskusi yang panjang, kami berempat mencoba memahami suatu hal yang hanya samar-samar kami ketahui. Setiap orang menyampaikan argumen yang berasal dari buku maupun situs yang telah di baca di internet. Bukan bermaksud sok ilmiah ataupun intelek, hanya ingin menerapkan etika yang baik dalam berdiskusi, agar tidak mengarah pada “debat kusir” yang berkepanjangang tanpa menemukan titik temu dalam persoalan yang sedang dihadapi, “ngomong harus punya dasar bung!”. Itu yang pernah disampaikan seorang sahabat kepadaku beberapa bulan yang lalu.

Berawal dari tatanan sosial yang pastinya dipenuhi oleh ragam kelas yang berbeda. Interaksi di dalamnya pun menurut kami sangat  menarik untuk dicermati. Mulai dari sistem kepercayaan yang dianut, motif ekonomi, serta norma  yang ada—notabene sangat berbeda antara satu dan  lainnya. Max Webber, mengungkapkan dalam bukunya, bahwa ketiga hal tersebut merupakan hal-hal yang dirasakan perlu dalam proses pengamatan terhadap sebuah kondisi sosial. Dalam interaksinya semua kelompok sosial pasti membutuhkan “sistem ukur” dalam proses  yang didasarkan pada subyektivitas mereka yang bersumber pada pengalaman serta obyektivitas mereka yang dihasilakan dari kesepakatan bersama. kedua pola penilaian itu secara relatif berhubungan. Hal itu terjadi ketika dalam satu kondisi, norma tersebut, memiliki dampak kepada subjektivitas seseorang di dalam masyarakat. Dan faktanya, norma tersebut sangatlah dibutuhkan setiap individu untuk menentukan suatu “nilai”.

“berarti nilai dan norma itu sangat berhubungan erat ya?” Tanyaku.
“iya, sistem ukur memang bergantung pada norma yang ada dalam tatanan masyarakat.” Sahut Taufiq.

“Tapi bukankah seorang individu lebih dahulu mengerti nilai, baru mengerti norma? Gumamku, sembari berbisik pada Arif”
“Makannya hubungan kedua hal itu relatif, atau bisa dikatakan memeiliki hukum relativisme.” Taufiq pun akhirnya menimpali, seakan mengerti apa yang aku bicarakan dengan Arif.

Akhirnya taufiq menjelaskan dengan seksama. Sistem ukur pertama kali dikenal oleh seorang manusia, dari sejak awal mereka mampu berfikir dan merasakan. Lalu, sebagai individu mereka melakukan proses sosial yang berulang-ulang. Mereka dalam prosesnya, melakukan penyesuaian terhadap kebiasaan-kebiasan yang ada di dalam masyarakat. Hingga akhirnya memahami dan mengerti norma yang ada di dalam kenyataan sosial.

Dalam pemahamannya, seorang individu akan mengkategorikan beberapa sistem penilaian. Diantara mana yang baik, buruk, adil, benar dan salah—yang bergantung pada tiga hal; ego, kesepakatan bersama, dan norma-norma yang ada. “Jadi, jika sistem ukur maupun norma mengalami perubahan. Sebuah tindakan yang dulunya dianggap buruk bisa jadi dianggap baik pada saat ini, begitu pula sebaliknya!”

“Maksudnya bergeser gimana itu? pindah tempat gitu?” Arif menimpali.
“Ya pindah tempat dari desa ke kota! Koen iki takok ae koyok wartawan! Sek ta aku tak njelasno disek!” Taufiq geram.

Nilai yang ada tidak semata-mata bergeser dengan sendirinya. Hal itu dimungkinkan karena norma-norma yang ada dalam masyarakat, tidak lagi memiliki peran yang signifikan dalam melakukan perannya sebagai society’s control, atau disebabkan karena masyarakat dalam kenyataan sosial, sudah tidak mengindahkan norma-norma yang berlaku di dalamnya. Dan di lain pihak, individu dalam masyrakat sudah tidak bisa melakukan kompromi dengan norma yang ada. Dikarenakan ada perbedaan pada norma sosial yang ada dengan norma yang dianut oleh individu tersebut.

“begitu ya? Contohnya kang?” Aku bertanya kembali.
“Hmm… contoh paling kecil adalah hot pen atau ‘katok gemes’ yang dipakai oleh wanita-wanita sekarang ini. Dulu pada zaman buyutku masih ada, pakaian tersebut dianggap tidak sopan. Karena melanggar norma asusila yang ada. Namun sekarang berubah menjadi biasa, malah ada yang mengatakan bahwa ‘katok gemes’ adalah trend anak muda zaman sekarang.”(mungkin beberapa tahun lagi bakal telanjang…waaaaw mauuuu …^_^…)

“Berarti gak selamanya trend dan realita itu sesuai dengan norma yang ada ya? Timpalku.
“kalau itu bergantung pada kondisi masyrakatnya sob. Kan aku tadi mengatakan sejak awal bahwa hukum relativisme antara nilai, norma dan moral itu relatif. Bergantung pada kenyataan sosial yang ada.”
“Berarti nggak jelas dong mana yang salah, trend apa normanya?” Rahmat memembantah.
“kalau itu bergantung pada individu yang menilai hal tersebut. Juga bergantung pada budaya yang ada pada lingkungan individu melakukan proses sosial.” Arif menyela.
“Benar kata Arif.” Taufiq menegaskan.

Mengingat ketiga hal dalam topik diskusi pada malam itu saling memiliki peran dalam kenyataan sosial. Kita seharusnya melihat lebih jeli, menentukan mana sebenarnya yang menjadi pemicu atas bergesernya sistem ukur yang ada di dalam masyarakat. Karena sistem ukur yang ada dalam masyarakat juga dipengaruhi oleh norma yang ada dalam masyarakat. Dan bisa dikatakan pula sebuah norma yang telah disepakati itu diambil berdasarkan pola hidup—kebiasaan—moral sebuah kelompok sosial.

Dalam perbincangan dan diskusi panjang tersebut. saya pribadi menyimpulkan, bahwa realita dan fakta yang terpapar dalam kehidupan kita, tidak selamnya benar dan tidak selamanya salah. Dalam menilai semua itu kita harus mempertimbangkan segala faktor yang ada agar mendapatkan satu kesimpulan yang ferifikatif. karena proses sosial adalah pengalaman sosial setiap individu yang harus dipahami secara esoteris—eksoteris—multidimensional.

(What will you do guys? Akankah kita biarkan saja seperti itu? manusia itu kan makhluk sosial yang dinamis ya nggak? Life is process—Qabilun Li al-taghyir wa al-niqas wa’ al-tajdid… ^_^ ganbate kudapaaaaan…)

Sabtu, 04 Februari 2012

Wonokromo, Senja Itu


Selalu, kupandangi setiap hujan yang turun—ingatkanku!.
Yang lalu, saat kupandang wajahmu.
Beranjak duka bersama kereta senja yang tiba.
Lesung pipimu masih memasung hatiku pada tiang pancang,
di stasiun itu, dimana kau hujamkan tawa tuk lukaku.
Mata sayumu masih merayuku tuk bertahan walau terabaikan.


Surabaya, 22 januari 2012