Senin, 12 Maret 2012

Sebuah Bayang; Cantiknya Ia

Sore itu, saat mereka duduk melingkar. Bercanda dan berbaur dalam hangatnya senja kota Surabaya. Sedikit polusi dari mobil mewah tidak menjadi masalah. Sedikit bau tak sedap dari saluran pembuangan kamar mandi, tidaklah cukup untuk sekedar mengurangi rindu. Di atas kursi kecil ia sempatkan mengupil, sembari memegang kartu dengan mata mecicil. Setidaknya itulah yang ia lakukan, disaat warung kopi menjadi satu-satunya tempat ramah baginya.

“Ah… Ternyata masih ada tempat seperti ini ya.”  Tak lagi nampak senyum kecut di wajahnya.

***

Lima jam yang lalu aku masih berada di kelas, menikmati perkuliahan yang sedang berlangsung. Ya, dosen itu sangat cantik, lesung pipinya, amboy… sangat sedap untuk dipandang. Matanya yang sayu tiada henti tuk menggodaku. Tak ada satupun kejelekan dalam tubuh dan tingkah polahnya. Bagaikan memandang venus dimalam hari. Bulan mungkin akan cemburu saat tatapan mataku tertuju padanya. Bagai tikus merindukan venus celotehku. Ingin menggapai namun tangan tak sampai. Kerlingan mataku tak henti mengamati gerak bibirnya yang seksi. Bahkan, tak sedikitpun aku ingin memejamkan mata. Ah, sayang aku tak mampu melihat mulusnya betis dan lehernya. Andai saja kerudung itu dibuka, dan rok panjang itu bisa lebih pendek, mungkin semesta akan memalingkan wajah kepadanya.

“Tuhan, berilah aku kesempatan.” Gumamku dalam hati.
“Ringo, ada yang ingin kau tanyakan?” Suara lembutnya membuatku terbangun dari lamunan indah.
“Ti…tidak bu…” Sedikit gagap.
“Lalu kenapa kau menatapku seperti itu?” Aku terdiam.
“Anu bu… ehm…” Belum sempat melanjutkan, dosen tersebut sudah menimpali.
“Ok, jika tidak ada pertanyaan, kelas bisa bubar. Selamat berakhir pekan untuk kalian semua.”
Senyum yang mengembang saat kelas berakhir semakin mempesona diriku. Tak tahan rasanya aku ingin menciumi bibirnya. Sayang, Ia bergegas meninggalkan kelas, begitu pula teman-temanku yang lain. Aku masih terdiam di atas bangku, menghirup aroma parfumnya yang masih tertinggal dalam ruangan. Kuhirup sangat dalam, agar tersimpan dalam ingatanku. Kuhafalkan dengan seksama agar suatu saat jika berjumpa, aku bisa langsung mengenalinya. Dan mungkin jika ada aroma parfum yang sama, aku bisa mengingatnya. Akupun bergegas meninggalkan ruangan. Kususuri aroma tersebut, semakin kuat, semakin dekat aku padanya.

“Hem… Mengapa kau begitu cantik bu?!” Gumamku dalam hati, saat mulai nampak tubuhnya yang semampai. Rok panjang yang ia kenakan seakan memperlambat laju kakinya.

“Andai kau memakai yang lebih pendek bu.” Harapku.

Bagiku kerudung putih itu sangat menggangu keelokannya, menutup rambut panjangnya yang terkuncir di belakang. Andai dibiarkan terurai, mungkin ia akan nampak lebih seksi, dan mungkin akan nampak lehernya yang mulus dan putih. Ia pun lenyap diantara kerumunan mahasiswa yang sedang asik bercengkrama di lorong kelas.

Hey girls, ayok ngopi. Di warung biasanya. Nanti jam tiga sore.” Sebuah pesan muncul di ponselku. Akupun bergegas menuju kos untuk merebahkan diri sambil menunggu jam tiga tiba.

Warung Kopi, Surabaya, 11 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar